Kemegahan Candi Borobudur kembali menghadirkan pesona yang tidak hanya bersifat arkeologis, tetapi juga artistik dan kultural. Pada penghujung tahun 2025, kawasan candi menjadi ruang pertemuan budaya melalui sebuah pertunjukan seni kolosal yang melibatkan puluhan penari dari berbagai daerah di Indonesia. Pagelaran ini menunjukkan bagaimana warisan sejarah dapat bertransformasi menjadi medium ekspresi budaya yang relevan dengan masyarakat masa kini.

Acara yang di gelar di area Taman Lumbini tersebut menghadirkan suasana magis dengan memanfaatkan latar candi sebagai elemen visual utama. Perpaduan antara relief kuno, pencahayaan artistik, serta koreografi modern menciptakan pengalaman yang tidak sekadar menghibur, tetapi juga sarat makna kebangsaan. Sehingga memperlihatkan potensi kawasan cagar budaya sebagai ruang dialog antara masa lalu dan masa kini.

Pertunjukan Seni sebagai Pendekatan Baru Pariwisata Budaya

Pagelaran bertajuk “Sabang Merauke: Mahakarya Borobudur” merepresentasikan pendekatan baru dalam pengelolaan destinasi wisata berbasis budaya. Konsep yang di usung tidak lagi bertumpu pada aktivitas kunjungan semata, melainkan menempatkan pengalaman emosional dan naratif sebagai inti dari perjalanan wisata. Melalui seni pertunjukan, pengunjung di ajak untuk memahami nilai sejarah dan identitas bangsa secara lebih mendalam.

Selama kurang lebih satu jam, penonton di suguhi rangkaian tarian yang tersusun dalam alur cerita simbolik. Cahaya lampu yang menyapu struktur candi memperkuat atmosfer dramatik, seolah menghidupkan kembali kisah-kisah yang terukir pada relief batu. Pendekatan ini di nilai efektif dalam menghadirkan pengalaman imersif, khususnya bagi wisatawan yang mencari makna lebih dari sebuah destinasi.

Pagelaran Budaya Candi Borobudur

Pagelaran Sabang Merauke di Candi Borobudur untuk Memperkuat Ekosistem Pariwisata dan Ekonomi Lokal.

Representasi Kejayaan Maritim dalam Narasi Pertunjukan

Salah satu elemen utama dalam pagelaran ini adalah pengangkatan simbol Kapal Samudra Raksa, yang di kenal sebagai bagian dari relief Candi Borobudur. Kapal tersebut di maknai sebagai representasi kejayaan maritim Nusantara di masa lampau. Narasi ini di sampaikan melalui gerak tari yang dinamis, menggambarkan perjalanan, pertemuan budaya, serta semangat pelayaran bangsa Indonesia.

Kisah maritim tersebut menjadi penghubung antarpenampilan tarian daerah yang di tampilkan secara bergantian. Setiap tarian membawa identitas lokalnya masing-masing, namun tetap terikat dalam satu benang merah cerita kebangsaan. Dengan demikian, pertunjukan ini tidak hanya menampilkan keberagaman, tetapi juga menegaskan persatuan dalam konteks sejarah dan budaya.

Kolaborasi Lintas Generasi dan Daerah

Sebanyak 90 penari dari berbagai wilayah Indonesia terlibat dalam pertunjukan ini. Kehadiran penari lintas generasi menunjukkan bahwa pelestarian budaya tidak mengenal batas usia. Kostum tradisional yang di kenakan tampil memikat dengan warna dan motif khas daerah, menambah kekayaan visual di atas panggung terbuka berlatar candi.

Selain tarian, unsur musik vokal turut memperkaya suasana. Perpaduan antara penyanyi nasional dan sinden Jawa Tengah menghadirkan harmoni yang mencerminkan dialog budaya. Kolaborasi ini memperlihatkan bahwa seni tradisi dan modern dapat berjalan beriringan tanpa saling meniadakan, justru saling menguatkan dalam satu komposisi artistik.

Ruang Edukasi dan Kepedulian Sosial

Bagi pengunjung, pagelaran ini tidak hanya menjadi hiburan, tetapi juga sarana edukasi budaya. Banyak wisatawan memanfaatkan momen tersebut untuk mengenalkan sejarah dan keragaman Nusantara kepada generasi muda dalam kemasan yang lebih mudah di pahami. Penyajian yang modern membuat nilai-nilai sejarah terasa lebih dekat dan relevan.

Di sisi lain, kegiatan ini juga mengusung pesan kemanusiaan. Penggalangan donasi yang di lakukan di akhir acara mencerminkan kepedulian sosial pengelola dan penonton terhadap masyarakat yang terdampak bencana alam di beberapa wilayah Indonesia. Hal ini menegaskan bahwa kegiatan budaya dapat berfungsi sebagai medium solidaritas dan empati.

Seni, Warisan, dan Identitas Bangsa

Pagelaran budaya di kawasan Candi Borobudur menunjukkan bahwa warisan sejarah memiliki potensi besar untuk dikembangkan secara berkelanjutan. Dengan pendekatan kreatif dan naratif, situs budaya tidak hanya dijaga sebagai peninggalan masa lalu, tetapi juga dihidupkan sebagai ruang ekspresi identitas bangsa. Melalui seni, sejarah dan nilai kebudayaan dapat terus diwariskan dalam bentuk yang adaptif terhadap perkembangan zaman.