Gelombang protes anti-pemerintah yang melanda Iran sejak akhir Desember 2025 menunjukkan dinamika yang semakin kompleks. Aksi massa yang awalnya di picu oleh tekanan ekonomi, inflasi tinggi, dan penurunan kualitas hidup kini berkembang menjadi ekspresi penolakan yang lebih luas terhadap sistem politik yang berkuasa. Salah satu fenomena menonjol dalam rangkaian demonstrasi tersebut adalah munculnya kembali simbol sejarah Iran, yakni bendera singa dan matahari atau lion and sun, yang di bawa oleh para demonstran baik di dalam negeri maupun di berbagai aksi solidaritas di luar Iran.
Kemunculan simbol ini menandai bahwa protes di Iran tidak hanya berfokus pada tuntutan kebijakan jangka pendek, melainkan juga menyentuh persoalan identitas nasional dan arah masa depan negara.
Bendera Singa dan Matahari sebagai Identitas Iran Pra-Revolusi
Sebelum Revolusi Islam 1979, Iran menggunakan bendera nasional yang menampilkan gambar singa memegang pedang dengan matahari di belakangnya, di letakkan di tengah warna hijau, putih, dan merah. Simbol ini telah di gunakan selama berabad-abad dalam sejarah Persia dan memiliki makna filosofis yang mendalam. Singa melambangkan kekuatan, keberanian, dan kedaulatan, sementara matahari merepresentasikan kehidupan, pencerahan, dan kontinuitas peradaban.
Pada masa Dinasti Pahlavi, bendera singa–matahari menjadi lambang resmi negara modern Iran. Simbol tersebut bukan hanya mencerminkan kekuasaan monarki, tetapi juga menegaskan identitas nasional yang bersifat sekuler dan berbasis sejarah panjang bangsa Persia.

Demonstran anti-rezim Iran mengibarkan bendera Iran sebelum revolusi 1979.
Perubahan Simbol Nasional Pasca Revolusi Islam 1979
Revolusi Islam 1979 membawa perubahan besar dalam struktur politik dan simbol kenegaraan Iran. Setelah monarki di gulingkan, pemerintahan baru mengganti lambang singa–matahari dengan simbol kaligrafi bertuliskan “Allah” di tengah bendera nasional. Selain itu, frasa “Allahu Akbar” di tambahkan secara berulang di bagian tepi bendera.
Perubahan ini merepresentasikan pergeseran ideologis yang signifikan, dari negara monarki nasional menuju republik Islam yang berlandaskan prinsip teokrasi. Agama kemudian menjadi fondasi utama dalam sistem kekuasaan dan legitimasi politik negara.
Makna Kembalinya Simbol Lama dalam Aksi Protes
Dalam konteks protes Iran 2025–2026, kemunculan kembali bendera singa–matahari di pahami sebagai bentuk simbolik perlawanan. Banyak pengamat menilai bahwa penggunaan simbol pra-revolusi ini tidak selalu mencerminkan keinginan untuk menghidupkan kembali monarki. Sebaliknya, simbol tersebut di pakai sebagai ekspresi penolakan total terhadap sistem politik dan ideologi yang saat ini berkuasa.
Laporan media internasional mencatat bahwa para demonstran menggunakan simbol sejarah sebagai bahasa visual untuk menyampaikan aspirasi perubahan mendasar. Bahkan di sejumlah negara seperti Inggris, aksi solidaritas terhadap protes di Iran turut menampilkan bendera singa–matahari sebagai bentuk dukungan moral terhadap demonstran di dalam negeri.
Peran Media Sosial dan Diaspora Iran
Fenomena kembalinya simbol lion and sun juga di perkuat oleh peran media sosial. Perubahan representasi emoji bendera Iran di platform digital menjadi versi singa–matahari memicu perhatian luas dan diskusi publik. Akibat perubahan sistemik tersebut, akun resmi pemerintah Iran dan media milik negara secara otomatis menampilkan simbol lama, yang kemudian menimbulkan ironi politik tersendiri.
Di kalangan diaspora Iran, simbol ini menjadi alat konsolidasi identitas dan solidaritas lintas negara. Demonstrasi di kota-kota besar dunia menunjukkan bahwa protes Iran telah melampaui batas geografis dan berkembang menjadi isu internasional.
Narasi Politik Reza Pahlavi dalam Konteks Simbol Nasional
Reza Pahlavi, putra mahkota terakhir Iran yang kini hidup di pengasingan, memanfaatkan momentum ini untuk menyuarakan pesan politiknya. Ia memposisikan bendera singa–matahari sebagai simbol identitas nasional yang terpisah dari rezim Republik Islam. Dalam berbagai pernyataan publik, Pahlavi menegaskan bahwa simbol tersebut merepresentasikan aspirasi Iran yang lebih inklusif dan bebas dari dominasi ideologi teokratis.
Meski demikian, tidak semua demonstran mengaitkan simbol tersebut dengan figur Pahlavi secara langsung. Bagi banyak peserta aksi, bendera itu lebih dimaknai sebagai lambang harapan akan masa depan baru, bukan sebagai nostalgia terhadap masa lalu monarki.
Protes Iran dan Tuduhan Intervensi Asing
Di tengah eskalasi demonstrasi, pemerintah Iran menuding adanya campur tangan asing, khususnya dari Amerika Serikat dan Israel. Pernyataan resmi menegaskan bahwa kekuatan eksternal berusaha memanfaatkan ketidakpuasan domestik untuk melemahkan stabilitas negara. Namun, tuduhan tersebut tidak meredam aksi massa yang terus berlanjut di berbagai wilayah.
Protes yang awalnya berakar pada persoalan ekonomi kini telah bertransformasi menjadi gerakan yang mempertanyakan legitimasi struktur kekuasaan secara menyeluruh.
Simbol Sejarah sebagai Representasi Aspirasi Masa Depan
Dalam keseluruhan dinamika protes Iran 2025–2026, bendera singa–matahari berfungsi sebagai simbol multidimensional. Ia tidak sekadar mengingatkan pada masa lalu, tetapi juga mencerminkan pencarian identitas nasional yang baru. Simbol ini digunakan untuk menyuarakan keinginan akan Iran yang lebih terbuka, berdaulat, dan berpijak pada aspirasi rakyat, bukan pada dogma ideologis semata.