Tanah Ketol Aceh Tengah – Pergerakan tanah yang menyerupai fenomena sinkhole kembali terjadi di wilayah Pondok Balik, Kecamatan Ketol, Kabupaten Aceh Tengah. Kejadian ini menunjukkan eskalasi yang signifikan karena luasan area terdampak terus bertambah dan mendekati badan jalan utama Blang Mancung–Simpang Balik. Jalan tersebut merupakan jalur strategis yang berfungsi sebagai penghubung utama antara Kabupaten Aceh Tengah dan Kabupaten Bener Meriah. Sehingga memiliki peran vital dalam aktivitas sosial dan ekonomi masyarakat.
Keberadaan jalan lintas ini sangat penting bagi mobilitas warga, termasuk akses menuju fasilitas pendidikan, layanan kesehatan, serta distribusi hasil pertanian dari kawasan pegunungan. Oleh karena itu, ancaman terhadap infrastruktur ini berpotensi menimbulkan dampak luas apabila tidak di tangani secara serius dan berkelanjutan.
Kondisi Terkini Pergerakan Tanah
Berdasarkan laporan pemantauan lapangan, hingga pertengahan Januari. Pergerakan tanah di laporkan semakin mendekati Jalan Buter–Pondok Balik, yang merupakan jalan kabupaten penghubung Blang Mancung dan Simpang Balik. Jalur ini selama ini menjadi urat nadi transportasi masyarakat setempat, khususnya bagi petani dan pelaku usaha lokal.
Pemerintah daerah melalui Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Aceh Tengah menyampaikan bahwa kondisi tersebut memerlukan kewaspadaan tinggi. Upaya pengamanan sementara telah di lakukan dengan pemasangan garis pembatas di titik-titik rawan guna mencegah kecelakaan lalu lintas dan mengurangi risiko bagi pengguna jalan.

Potret tanah amblas di Kecamatan Ketol, Kabupaten Aceh Tengah yang kian mendekati badan jalan lintas Blang Mancung-Simpang Balik yang menghubungkan Aceh Tengah dengan Bener Meriah.
Riwayat Longsoran dan Faktor Pemicu
Fenomena pergerakan tanah di kawasan ini bukan merupakan kejadian baru. Data historis menunjukkan bahwa aktivitas longsoran telah terdeteksi sejak awal tahun 2000-an dan mengalami peningkatan signifikan setelah terjadinya gempa bumi di wilayah Gayo pada tahun 2013. Seiring berjalannya waktu, struktur tanah yang telah melemah semakin rentan terhadap tekanan lingkungan.
Memasuki tahun-tahun terakhir, intensitas pergerakan tanah kembali meningkat. Jalur jalan yang sebelumnya telah di relokasi akibat longsoran lama kini kembali terancam. Hal ini menunjukkan bahwa kawasan tersebut memiliki karakteristik geologi yang tidak stabil dan memerlukan solusi jangka panjang, bukan hanya penanganan sementara.
Karakteristik Geologi dan Kondisi Lingkungan
Kajian teknis dari instansi terkait menyebutkan bahwa pergerakan tanah di Kampung Bah, Kecamatan Ketol, di kategorikan sebagai longsoran lambat (slow moving landslide). Jenis longsoran ini berbeda dengan sinkhole yang terjadi secara tiba-tiba. Namun tetap berbahaya karena berlangsung terus-menerus dan sulit di prediksi secara kasat mata.
Material tanah di lokasi di dominasi oleh endapan vulkanik yang memiliki daya serap air tinggi. Saat jenuh air, tanah menjadi tidak stabil dan mudah bergerak. Kondisi ini di perparah oleh curah hujan tinggi yang kerap terjadi di wilayah pegunungan Aceh Tengah. Kemiringan lereng yang curam, serta adanya retakan lama yang berfungsi sebagai jalur masuk air ke dalam lapisan tanah.
Pengamatan visual di lapangan menunjukkan bahwa bidang gelincir longsoran memiliki kemiringan mendekati sudut tegak lurus. Yang meningkatkan potensi pergerakan tanah secara berkelanjutan dan mempercepat perluasan area terdampak.
Dampak terhadap Infrastruktur dan Aktivitas Masyarakat
Hingga beberapa tahun terakhir, luas area longsoran tercatat telah mencapai puluhan ribu meter persegi dan terus bergerak mendekati badan jalan utama. Kondisi ini menempatkan wilayah tersebut dalam kategori zona rawan tinggi terhadap pergerakan tanah.
Ancaman terhadap infrastruktur jalan tidak hanya berpotensi mengganggu arus lalu lintas. Tetapi juga berdampak langsung pada perekonomian masyarakat. Distribusi hasil pertanian, akses logistik. Serta mobilitas harian warga dapat terganggu apabila jalur utama harus di tutup secara total demi keselamatan.
Upaya Mitigasi dan Penanganan Berkelanjutan
Sebagai langkah antisipasi, BPBD Aceh Tengah telah melakukan koordinasi dengan Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) serta Dinas Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM). Koordinasi ini di fokuskan pada kajian teknis penanganan longsoran. Termasuk kemungkinan relokasi trase jalan ke area yang lebih aman.
Selain itu, masyarakat di himbau untuk mematuhi rambu peringatan, tidak melintas terlalu dekat dengan tepi jalan. Serta menghindari kawasan rawan terutama saat cuaca ekstrem. Jalur alternatif juga telah di siapkan untuk menjaga kelancaran mobilitas apabila akses utama harus di batasi.
Pendekatan mitigasi yang terintegrasi dan berkelanjutan menjadi kunci dalam mengurangi risiko bencana di wilayah ini. Mengingat karakteristik geologi yang rentan dan peran vital infrastruktur yang terdampak.