Banjir Pekalongan, Jawa Tengah, memberikan dampak signifikan terhadap kelancaran transportasi kereta api di jalur pantai utara Pulau Jawa. Genangan air yang terjadi di sejumlah titik jalur rel menyebabkan gangguan operasional, mulai dari keterlambatan perjalanan hingga pembatalan beberapa layanan kereta api. Kondisi ini mendorong PT Kereta Api Indonesia (KAI) untuk mengambil langkah pengamanan demi menjaga keselamatan perjalanan dan penumpang.

Gangguan utama terjadi pada petak jalan antara Stasiun Pekalongan dan Stasiun Sragi, tepatnya di sekitar KM 88+6/7. Hingga laporan terakhir pada Sabtu pagi, jalur hulu dan hilir di lokasi tersebut belum dapat di lalui akibat ketinggian air yang masih menutup sebagian rel. Situasi ini membuat perjalanan kereta api tidak memungkinkan untuk melintas secara normal.

Penutupan Jalur sebagai Langkah Keselamatan

Sebagai bentuk mitigasi risiko, KAI Daerah Operasi (Daop) 4 Semarang memberlakukan penutupan sementara jalur rel yang terdampak banjir. Penutupan ini di lakukan semata-mata untuk menghindari potensi kecelakaan dan memastikan standar keselamatan tetap terjaga. Keselamatan perjalanan kereta api menjadi prioritas utama, baik bagi pelanggan maupun bagi petugas operasional di lapangan.

Pihak KAI Daop 4 Semarang menyampaikan bahwa tim prasarana terus melakukan pemantauan intensif di area terdampak. Pemantauan di lakukan secara berkala untuk mengamati perubahan ketinggian genangan air dan kondisi struktur rel. Hasil pemantauan tersebut menjadi dasar dalam menentukan langkah operasional lanjutan, termasuk kemungkinan pembukaan kembali jalur apabila kondisi telah di nyatakan aman.

Banjir Pekalongan

Jalan Stasiun Pekalongan-Stasiun Sragi, tepatnya di KM 88+6/7, terdampak banjir.

Pembatalan Perjalanan Kereta Api

Akibat belum dapat di fungsikannya jalur Pekalongan–Sragi, KAI terpaksa membatalkan sejumlah perjalanan kereta api. Hingga pukul 05.30 WIB, tercatat empat perjalanan kereta yang di batalkan karena tidak memungkinkan untuk di alihkan atau d ioperasikan secara aman.

Kereta yang mengalami pembatalan meliputi KA Kaligung relasi Semarang Poncol–Cirebon Prujakan, KA Merbabu relasi Semarang Tawang–Gambir, KA Kaligung relasi Tegal–Semarang Poncol, serta KA Merbabu relasi Gambir–Semarang Tawang. Pembatalan ini berdampak langsung pada pelanggan yang telah merencanakan perjalanan menggunakan layanan tersebut.

Pihak KAI menyampaikan permohonan maaf atas ketidaknyamanan yang di alami oleh pelanggan, baik akibat pembatalan perjalanan, keterlambatan, maupun perubahan rute. Komunikasi kepada pelanggan terus di lakukan agar informasi dapat di terima secara jelas dan tepat waktu.

Perubahan Pola Operasi dan Pengalihan Rute

Selain pembatalan, KAI Daop 4 Semarang juga menerapkan perubahan pola operasi untuk beberapa perjalanan kereta api. Perubahan ini di lakukan dengan mengatur rute memutar guna menghindari jalur yang tergenang banjir. Meskipun rute alternatif menyebabkan waktu tempuh menjadi lebih panjang, langkah ini di nilai sebagai solusi terbaik agar layanan kereta api tetap dapat berjalan.

Sejumlah kereta api di alihkan melalui lintas Tegal–Prupuk–Kroya–Solobalapan–Gundih–Gambringan, sementara sebagian lainnya memutar melalui jalur Semarang Tawang–Brumbung–Gundih–Solobalapan–Kroya–Cilacap. Kereta yang menggunakan rute memutar antara lain KA Anjasmoro, KA Jayabaya, KA Harina, dan KA Kamandaka.

Pengaturan ulang rute ini membutuhkan koordinasi intensif antara petugas operasional, pengatur perjalanan kereta api, serta tim prasarana. Dengan demikian, perjalanan kereta tetap dapat berjalan meskipun dalam kondisi terbatas.

Upaya Berkelanjutan dalam Menjaga Layanan Transportasi

Kondisi banjir yang memengaruhi jalur rel di Pekalongan menunjukkan betapa rentannya infrastruktur transportasi terhadap bencana alam. Oleh karena itu, KAI terus berupaya menjaga keseimbangan antara keselamatan, kelancaran operasional, dan kualitas pelayanan kepada pelanggan. Pemantauan lapangan, evaluasi teknis, serta komunikasi publik menjadi bagian penting dalam menghadapi situasi darurat seperti ini.

Ke depan, penanganan dampak banjir terhadap jalur kereta api memerlukan sinergi antara operator transportasi, pemerintah daerah, dan pemangku kepentingan lainnya. Dengan langkah antisipatif dan respons cepat, gangguan terhadap mobilitas masyarakat diharapkan dapat diminimalkan meskipun di tengah kondisi cuaca ekstrem.