Harmoni Budaya Singkawang – Indonesia di kenal sebagai negara dengan tingkat keberagaman budaya, suku, dan agama yang sangat tinggi. Keberagaman tersebut, apabila di kelola dengan baik, dapat menjadi kekuatan strategis dalam memperkuat persatuan bangsa sekaligus mendorong promosi budaya di tingkat nasional maupun internasional. Salah satu daerah yang di nilai berhasil menampilkan wajah harmoni dalam keberagaman adalah Kota Singkawang, Kalimantan Barat.
Pandangan tersebut di sampaikan oleh Menteri Agama Republik Indonesia, Nasaruddin Umar, dalam sebuah kegiatan promosi budaya bertajuk Discover Timeless Harmony Explore Singkawang yang di selenggarakan di Hotel Borobudur Jakarta. Kegiatan ini menjadi sarana strategis untuk memperkenalkan kekayaan budaya dan potensi pariwisata Singkawang kepada masyarakat luas, termasuk audiens internasional.
Harmoni Budaya sebagai Modal Sosial Bangsa
Dalam sambutannya, Menteri Agama menekankan bahwa kekayaan budaya Indonesia tercermin dari keberagaman ekspresi seni, tradisi, dan nilai-nilai sosial yang hidup di tengah masyarakat. Menurutnya, kegiatan promosi budaya seperti ini menjadi bukti konkret bahwa perbedaan bukanlah penghalang, melainkan elemen yang memperindah identitas nasional.
Lebih lanjut, Menag mengajak seluruh elemen masyarakat untuk terus menumbuhkan harmoni tanpa sekat di tengah perbedaan latar belakang. Upaya ini di nilai penting untuk mencegah munculnya jarak sosial antarkelompok serta memperkuat kohesi sosial dalam kehidupan bermasyarakat. Dalam konteks ini, Singkawang di nilai mampu menunjukkan praktik toleransi yang tidak hanya bersifat simbolik, tetapi nyata dalam kehidupan sehari-hari warganya.

Hotel Borobudur usung program harmoni budaya Singkawang sambut Imlek-Ramadhan.
Singkawang sebagai Representasi Keberagaman Indonesia
Kota Singkawang sering di sebut sebagai miniatur Indonesia karena di huni oleh berbagai kelompok etnis dan agama yang hidup berdampingan secara damai. Kondisi sosial ini menjadikan Singkawang sebagai contoh daerah yang berhasil menjaga keseimbangan antara identitas budaya lokal dan nilai persatuan nasional.
Wali Kota Singkawang, Tjhai Chui Mie, menyampaikan bahwa promosi budaya yang di tampilkan dalam kegiatan tersebut merupakan cerminan dari kehidupan masyarakat Singkawang yang menjunjung tinggi toleransi. Salah satu bentuk konkret yang di perkenalkan adalah batik Tidayu, sebuah karya budaya yang merepresentasikan tiga unsur utama masyarakat Singkawang, yaitu Tionghoa, Dayak, dan Melayu.
Batik Tidayu tidak hanya berfungsi sebagai produk budaya, tetapi juga sebagai simbol persatuan yang lahir dari keberagaman. Melalui karya ini, pemerintah daerah ingin menunjukkan bahwa nilai toleransi tidak hanya di sampaikan melalui narasi, melainkan di wujudkan dalam bentuk karya, busana, dan agenda budaya yang melibatkan seluruh elemen masyarakat.
Strategi Promosi Budaya dan Pariwisata Berkelanjutan
Kegiatan Discover Timeless Harmony Explore Singkawang merupakan hasil kolaborasi antara Pemerintah Kota Singkawang dan pihak manajemen Hotel Borobudur Jakarta. Kerja sama ini bertujuan membuka akses promosi yang lebih luas bagi potensi budaya, kuliner, dan pariwisata Singkawang. Dengan jaringan dan reputasi internasional yang di miliki hotel tersebut, Singkawang di harapkan dapat semakin di kenal oleh wisatawan mancanegara.
Pendekatan promosi ini sejalan dengan konsep pariwisata berbasis budaya dan toleransi. Keberagaman yang terjaga dengan harmonis menjadi daya tarik utama yang membedakan Singkawang dari destinasi lain. Hal ini sekaligus menunjukkan bahwa nilai-nilai sosial dapat menjadi aset penting dalam pembangunan pariwisata berkelanjutan.
Kolaborasi Budaya dalam Momentum Keagamaan
Tahun ini, Singkawang berada pada momentum yang unik karena perayaan Tahun Baru Imlek berlangsung berdekatan dengan datangnya bulan suci Ramadhan. Kondisi tersebut di manfaatkan sebagai ruang kolaborasi lintas budaya dan agama. Panitia perayaan Imlek dan Cap Go Meh bekerja sama dengan panitia Ramadhan Fair untuk menyelenggarakan berbagai kegiatan yang inklusif.
Pemerintah kota juga melakukan penataan ruang publik dengan menghadirkan ornamen bernuansa Imlek dan Idul Fitri secara bersamaan. Selain itu, pada bulan Ramadhan akan digelar pasar juadah serta pertunjukan seni budaya yang melibatkan puluhan paguyuban etnis di Singkawang. Inisiatif ini semakin menegaskan identitas Singkawang sebagai kota yang menjadikan toleransi sebagai bagian dari kehidupan sosial dan strategi pembangunan daerah.