Bencana banjir dan longsor yang melanda sejumlah wilayah di Sumatera menyisakan berbagai persoalan serius yang masih harus di tangani secara berkelanjutan. Meskipun tahap tanggap darurat telah di lalui, proses pemulihan pascabencana menghadapi tantangan yang tidak sederhana. Berbagai sektor terdampak, mulai dari lingkungan, infrastruktur, hingga kondisi sosial masyarakat.

Ketua Posko Satuan Tugas Pemulihan Bencana DPR, yang tergabung dalam Satgas Galapana, menyampaikan bahwa terdapat beberapa permasalahan utama yang hingga kini masih menjadi fokus perhatian. Permasalahan tersebut di nilai memiliki dampak langsung terhadap potensi bencana susulan serta keberlangsungan kehidupan masyarakat di wilayah terdampak.

Normalisasi Sungai sebagai Prioritas Utama Pemulihan

Salah satu isu paling mendesak dalam proses pemulihan pascabencana adalah kondisi sungai. Sungai-sungai yang berada di wilayah terdampak banjir di nilai belum sepenuhnya di normalisasi. Akibatnya, potensi banjir susulan masih sangat tinggi, terutama saat curah hujan kembali meningkat.

Masih di temukannya material sisa bencana seperti kayu, lumpur, dan puing-puing di aliran sungai menyebabkan kapasitas sungai menurun secara signifikan. Dalam kondisi tersebut, hujan dengan durasi singkat sekalipun dapat memicu luapan air yang berujung pada banjir kembali. Oleh karena itu, normalisasi sungai menjadi langkah awal yang harus segera di selesaikan untuk meminimalkan risiko bencana lanjutan.

Upaya pembersihan dan penataan ulang sungai juga di nilai penting sebagai bagian dari mitigasi jangka menengah. Selain mengurangi ancaman banjir, normalisasi sungai dapat memulihkan fungsi ekologis serta mendukung keberlanjutan lingkungan di kawasan terdampak.

Pascabencana Banjir

Rapat Satgas Pemulihan Pascabencana Sumatera di Aceh.

Akses Jalan Masih Menjadi Kendala di Wilayah Terisolasi

Permasalahan berikutnya yang di hadapi dalam tahap pemulihan adalah terbatasnya akses jalan. Beberapa daerah terdampak masih mengalami keterisolasian akibat rusaknya infrastruktur jalan dan jembatan. Kondisi ini menghambat distribusi bantuan, logistik, serta memperlambat proses pemulihan aktivitas masyarakat.

Pemerintah bersama satuan tugas terkait saat ini masih memfokuskan upaya pembukaan dan perbaikan jalur transportasi. Akses jalan di anggap sebagai elemen vital karena berpengaruh langsung terhadap mobilitas warga, pelayanan kesehatan, distribusi bahan pokok, serta aktivitas ekonomi masyarakat setempat.

Tanpa akses yang memadai, upaya pemulihan di sektor lain akan berjalan tidak optimal. Oleh sebab itu, percepatan perbaikan infrastruktur jalan menjadi bagian penting dari strategi pemulihan pascabencana di Sumatera.

Penyediaan Hunian Sementara untuk Korban Terdampak

Kebutuhan akan hunian sementara (huntara) juga menjadi perhatian serius. Ribuan warga kehilangan tempat tinggal akibat banjir dan longsor, sehingga memerlukan solusi hunian yang layak dan aman. Pemerintah menargetkan pembangunan puluhan ribu unit huntara sebagai bagian dari pemulihan sosial bagi korban terdampak.

Namun, dalam pelaksanaannya, pembangunan huntara menghadapi berbagai kendala, terutama dalam hal distribusi material. Kondisi geografis serta keterbatasan akses darat membuat proses pengangkutan menjadi lebih kompleks. Untuk mengatasi hal tersebut, di lakukan koordinasi lintas sektor, termasuk dengan unsur pertahanan, guna mempercepat distribusi logistik melalui jalur udara.

Langkah ini menunjukkan pentingnya kolaborasi antarinstansi dalam menghadapi situasi pascabencana, agar kebutuhan dasar masyarakat dapat segera terpenuhi.

Pembersihan Lumpur untuk Mempercepat Pemulihan Permukiman

Permasalahan terakhir yang tidak kalah penting adalah pembersihan lumpur di rumah-rumah warga. Banyak permukiman mengalami kerusakan ringan hingga sedang akibat endapan lumpur yang cukup tebal. Jika tidak segera di bersihkan, kondisi tersebut dapat berdampak pada kesehatan dan kenyamanan penghuni.

Pembersihan rumah warga di nilai dapat mengurangi ketergantungan terhadap hunian sementara. Apabila rumah dengan kerusakan ringan dapat segera di bersihkan dan di fungsikan kembali, maka warga tidak perlu terlalu lama tinggal di huntara. Hal ini sekaligus dapat menekan kebutuhan pembangunan hunian sementara dalam jumlah besar.

Upaya pembersihan lingkungan juga berperan penting dalam memulihkan aktivitas sosial masyarakat serta mendorong percepatan pemulihan pascabencana secara menyeluruh.