Perkembangan industri smartphone global kembali menarik perhatian setelah vendor ponsel pintar. Realme secara resmi mengumumkan integrasi kembali ke dalam struktur Oppo sebagai sub-brand. Keputusan ini di umumkan pada Rabu, 7 Januari 2026, dan menjadi langkah strategis yang mencerminkan dinamika persaingan. Serta efisiensi operasional di pasar teknologi yang semakin kompetitif.
Realme menyampaikan bahwa integrasi tersebut di lakukan untuk mengoptimalkan pemanfaatan sumber daya internal dan memperkuat sinergi antar-merek dalam satu ekosistem. Dalam pernyataan resminya, Realme menegaskan bahwa langkah ini bukan sekadar perubahan struktur organisasi, melainkan strategi jangka panjang untuk meningkatkan daya saing produk dan layanan secara global.
Strategi Integrasi dalam Ekosistem Oppo
Melalui kebijakan ini, Oppo kini memiliki dua sub-brand aktif, yaitu Realme dan OnePlus. Pola ini menunjukkan pendekatan multi-brand yang memungkinkan satu grup perusahaan menjangkau segmen pasar yang berbeda dengan karakteristik produk yang lebih spesifik.
Model strategi tersebut di nilai sejalan dengan praktik yang di terapkan oleh Xiaomi, yang mengelola sub-brand seperti Redmi dan Poco. Dengan cara ini, masing-masing merek dapat mempertahankan identitasnya sambil tetap memanfaatkan dukungan teknologi dan rantai pasok dari induk perusahaan.
Realme menilai bahwa integrasi ini akan memberikan ruang kolaborasi yang lebih luas dalam pengembangan teknologi, desain produk, serta inovasi perangkat lunak. Sinergi lintas merek di yakini mampu mempercepat proses pengembangan produk dan meningkatkan kualitas layanan bagi konsumen di berbagai wilayah.

Ilustrasi Realme dan OnePlus sub-brand Oppo.
Dampak terhadap Produk dan Layanan Purnajual
Meskipun kembali berstatus sebagai sub-brand, Realme menegaskan bahwa jadwal peluncuran produk tetap berjalan sesuai rencana. Konsumen tidak akan mengalami perubahan signifikan dalam hal ketersediaan produk maupun strategi pemasaran yang telah di rancang sebelumnya.
Namun demikian, terdapat penyesuaian pada aspek layanan purnajual. Ke depan, sistem layanan purnajual Realme akan terintegrasi dengan infrastruktur milik Oppo. Integrasi ini di pandang sebagai upaya untuk meningkatkan efisiensi operasional sekaligus memperluas jaringan layanan. Sehingga konsumen dapat memperoleh akses dukungan teknis yang lebih merata dan terstandarisasi.
Dari sudut pandang manajemen, penggabungan layanan ini juga di harapkan dapat mengurangi duplikasi sumber daya, baik dari sisi logistik, pusat layanan, maupun pengelolaan suku cadang.
Efisiensi Grup dan Persaingan Global
Langkah integrasi Realme ke dalam Oppo di nilai sejalan dengan strategi efisiensi yang di terapkan oleh grup induk BBK Electronics. Grup ini menaungi beberapa merek besar di industri smartphone, termasuk Oppo, Realme, dan Vivo.
Sejumlah analis industri memandang bahwa restrukturisasi ini dapat membantu Oppo memperjelas fokus bisnisnya di tengah persaingan global yang semakin ketat. Dengan mengelola merek secara lebih terintegrasi, perusahaan dapat mengalokasikan sumber daya riset dan pengembangan secara lebih efektif, sekaligus memperkuat posisi di pasar internasional.
Selain itu, pendekatan ini juga di anggap relevan untuk menghadapi tantangan pasar seperti fluktuasi permintaan, tekanan harga, serta percepatan inovasi teknologi yang menuntut investasi besar.
Perjalanan Realme sebagai Merek Global
Sebagai latar belakang, Realme pertama kali di perkenalkan sebagai merek independen pada Mei 2018 melalui peluncuran Realme 1. Sejak saat itu, Realme berkembang pesat dan berhasil menembus berbagai pasar internasional, termasuk India, kawasan Asia Tenggara, hingga Eropa.
Di kawasan Asia Tenggara, Realme menunjukkan pertumbuhan signifikan dengan menghadirkan produk yang menyasar segmen anak muda dan pengguna yang mengutamakan keseimbangan antara harga dan spesifikasi. Di Indonesia, Realme dikenal sebagai salah satu merek yang aktif menghadirkan inovasi pada kelas menengah dan entry-level.
Dengan integrasi kembali ke dalam Oppo, Realme memasuki fase baru dalam perjalanan bisnisnya. Langkah ini mencerminkan adaptasi strategis terhadap perubahan lanskap industri teknologi global, sekaligus upaya untuk mempertahankan relevansi dan daya saing di tengah perkembangan pasar yang dinamis.