Pengalaman traumatis pada masa remaja sering kali meninggalkan dampak psikologis jangka panjang. Terutama ketika melibatkan relasi yang tidak sehat dan manipulatif. Hal ini disuarakan secara terbuka oleh Aurelie Moeremans, seorang aktris dan penyanyi Indonesia. Melalui karya tulis pribadinya yang berjudul Broken Strings. Dalam buku tersebut, ia mengungkap pengalaman kelam yang di alaminya saat masih berusia 15 tahun, sebuah fase perkembangan yang sangat rentan secara emosional dan psikologis.
Melalui narasi personal, Aurelie memilih untuk tidak lagi diam dan menjadikan pengalamannya sebagai bentuk perlawanan terhadap praktik relasi abusif yang kerap luput dari perhatian publik. Pengakuan ini bukan hanya bersifat personal, tetapi juga memiliki nilai edukatif yang penting bagi masyarakat luas, khususnya terkait isu perlindungan anak dan remaja.
Awal Relasi dan Proses Manipulasi Psikologis
Dalam bagian awal buku tersebut, Aurelie menceritakan pertemuannya dengan seorang pria yang ia samarkan dengan nama Bobby. Saat itu, Aurelie masih berstatus sebagai remaja, sementara pria tersebut telah berusia jauh lebih dewasa. Pertemuan mereka terjadi di lingkungan profesional, yakni lokasi syuting iklan, yang pada awalnya tampak sebagai interaksi biasa tanpa kecurigaan.
Namun seiring waktu, hubungan tersebut berkembang ke arah yang tidak sehat. Pria tersebut mulai menunjukkan perilaku manipulatif secara bertahap. Sebuah proses yang di kenal sebagai grooming. Manipulasi di lakukan secara perlahan dan sistematis, sehingga korban sering kali tidak menyadari bahwa dirinya sedang di jauhkan dari realitas dan di kondisikan untuk bergantung secara emosional pada pelaku.

Grooming di usia 15 hingga mendapat ancaman, Aurelie Moeremans ungkap pilu masa lalu di buku ‘Broken Strings’. Berani bersuara demi sesama.
Bentuk Kontrol dalam Hubungan yang Tidak Sehat
Salah satu ciri utama dari hubungan manipulatif adalah adanya kontrol berlebihan. Dalam pengalamannya, Aurelie mengungkapkan bahwa pelaku mulai mengatur berbagai aspek kehidupannya. Mulai dari cara berpakaian hingga membatasi interaksi sosialnya dengan lingkungan sekitar. Pembatasan komunikasi dengan dunia luar merupakan strategi umum dalam relasi abusif, karena dapat melemahkan dukungan sosial korban.
Kontrol semacam ini sering kali di bungkus dengan dalih perhatian atau kasih sayang. Padahal, di balik itu terdapat upaya sistematis untuk mengisolasi korban agar lebih mudah di kendalikan. Dalam konteks psikologis, kondisi ini dapat menimbulkan kebingungan emosional, rasa bersalah, hingga ketergantungan yang mendalam.
Grooming sebagai Ancaman Tersembunyi bagi Anak dan Remaja
Grooming, atau sering di sebut child grooming. Merupakan proses manipulasi psikologis di mana pelaku membangun kedekatan emosional dengan anak atau remaja untuk tujuan eksploitasi. Proses ini tidak di lakukan secara kasar atau terang-terangan, melainkan melalui pendekatan halus seperti perhatian berlebih, pujian, atau pemberian rasa aman semu.
Berbeda dengan kekerasan fisik yang mudah di kenali, grooming kerap sulit di deteksi karena berlangsung dalam jangka waktu tertentu dan tampak seperti hubungan yang wajar. Pelaku berusaha menciptakan ilusi kepedulian. Padahal di baliknya terdapat niat untuk memanfaatkan korban secara emosional maupun seksual.
Pentingnya Kesadaran dan Edukasi Publik
Pengakuan terbuka melalui karya seperti Broken Strings memiliki peran penting dalam meningkatkan kesadaran masyarakat tentang bahaya grooming dan manipulasi dalam hubungan. Kisah nyata yang di sampaikan secara jujur dapat membantu publik memahami bahwa praktik ini bisa terjadi di lingkungan mana pun, termasuk ruang profesional yang di anggap aman.
Edukasi mengenai tanda-tanda awal grooming menjadi langkah preventif yang krusial. Anak, remaja, orang tua, pendidik, dan masyarakat umum perlu di bekali pemahaman agar mampu mengenali pola manipulasi sejak dini. Dengan demikian, upaya perlindungan terhadap kelompok rentan dapat di lakukan secara lebih efektif.
Narasi Penyembuhan dan Suara Korban
Selain sebagai bentuk peringatan, buku ini juga merepresentasikan proses penyembuhan psikologis seorang penyintas. Dengan menyuarakan pengalaman masa lalu, korban reclaim kontrol atas narasi hidupnya dan membuka ruang dialog yang lebih luas mengenai kesehatan mental serta relasi yang sehat.
Keberanian untuk berbicara tidak hanya berdampak pada pemulihan individu, tetapi juga berkontribusi pada perubahan sosial. Narasi semacam ini menegaskan bahwa pengalaman traumatis bukanlah aib, melainkan isu struktural yang perlu di respons secara kolektif melalui edukasi, empati, dan kebijakan perlindungan yang memadai.