Overthinking atau kecenderungan berpikir berlebihan sering kali muncul ketika seseorang merasa harus selalu mengambil keputusan yang paling tepat dalam setiap situasi. Kondisi ini tidak hanya menguras energi mental, tetapi juga dapat menimbulkan kecemasan, keraguan, dan rasa takut yang berlebihan. Dorongan untuk menemukan pilihan terbaik kerap membuat seseorang terjebak dalam analisis tanpa akhir, hingga akhirnya sulit untuk melangkah atau bahkan menunda pengambilan keputusan sama sekali.
Dalam kehidupan sehari-hari, tekanan untuk selalu membuat keputusan sempurna bisa datang dari berbagai arah, baik dari tuntutan lingkungan, ekspektasi sosial, maupun standar pribadi yang terlalu tinggi. Akibatnya, pikiran terus bekerja tanpa henti, mempertimbangkan berbagai kemungkinan buruk yang sebenarnya belum tentu terjadi. Jika di biarkan, pola pikir ini dapat berdampak negatif pada kesehatan mental dan produktivitas.
Konsep Pola Pikir “Cukup Baik” sebagai Alternatif
Salah satu pendekatan yang di nilai efektif untuk mengurangi overthinking adalah menerapkan pola pikir “cukup baik”. Pendekatan ini di kenal dengan istilah satisficing, yaitu strategi pengambilan keputusan yang berfokus pada pemenuhan kebutuhan utama tanpa harus mengejar kesempurnaan. Alih-alih terus mencari pilihan terbaik, seseorang berhenti ketika menemukan opsi yang sudah memenuhi kriteria dasar yang di butuhkan.
Pola pikir ini membantu individu mengambil keputusan dari kondisi mental yang lebih tenang. Dengan mengurangi tekanan untuk selalu menjadi sempurna, seseorang dapat menghindari rasa cemas yang berlebihan serta menghemat energi mental. Pendekatan “cukup baik” juga mendorong sikap realistis terhadap keterbatasan waktu, tenaga, dan sumber daya yang di miliki.

Ilustrasi Overthinking.
Perbedaan Satisficing dan Perfeksionisme
Perbedaan mendasar antara perfeksionisme dan satisficing terletak pada cara seseorang memandang batasan. Perfeksionisme sering kali mengabaikan keterbatasan tersebut, sehingga individu terus memaksakan diri untuk mencari hasil terbaik tanpa mempertimbangkan dampaknya terhadap kondisi mental. Dalam situasi ini, waktu dan energi menjadi terabaikan karena fokus hanya tertuju pada hasil akhir yang ideal.
Sebaliknya, satisficing menempatkan prioritas pada hal-hal yang benar-benar penting. Pendekatan ini mengajak individu untuk menyadari bahwa tidak semua keputusan membutuhkan hasil sempurna. Dengan memahami batasan yang ada, seseorang dapat memilih opsi yang paling relevan dan memadai, tanpa harus terjebak dalam tekanan internal yang tidak perlu.
Jenis Keputusan yang Cocok dengan Pendekatan Satisficing
Satisficing paling efektif di terapkan pada keputusan yang memiliki risiko rendah dan beberapa hasil yang sama-sama dapat di terima. Dalam kondisi seperti ini, manfaat mencari pilihan paling sempurna sering kali tidak sebanding dengan beban mental yang di timbulkan oleh overthinking. Keputusan sehari-hari menjadi contoh paling jelas, seperti memilih pakaian kerja, menentukan menu makan, atau merespons pesan profesional.
Misalnya, dalam memilih pakaian, mengenakan busana yang rapi dan nyaman sudah cukup untuk memenuhi kebutuhan, tanpa harus mempertimbangkan setiap kemungkinan kombinasi. Hal serupa juga terjadi saat membalas email atau pesan pekerjaan. Banyak orang menghabiskan waktu berlebihan untuk menyusun kalimat yang di anggap ideal, padahal pesan yang jelas, sopan, dan mudah di pahami sudah memadai.
Mengurangi Overthinking Setelah Membuat Pilihan
Menerapkan satisficing tidak selalu terasa mudah, terutama bagi individu yang terbiasa dengan pola pikir perfeksionis. Pada tahap awal, memilih opsi yang “cukup baik” dapat menimbulkan rasa tidak nyaman atau kekhawatiran akan penyesalan di kemudian hari. Oleh karena itu, pendekatan ini sebaiknya dimulai dari keputusan-keputusan kecil dalam kehidupan sehari-hari.
Salah satu langkah yang dapat dilakukan adalah menetapkan kriteria “cukup baik” sejak awal. Dengan memiliki batasan yang jelas, seseorang dapat berhenti mencari alternatif lain ketika kriteria tersebut telah terpenuhi. Cara ini membantu pikiran tetap fokus dan mencegah kecenderungan untuk terus membandingkan pilihan yang sebenarnya tidak terlalu berbeda.
Manfaat Jangka Panjang Pola Pikir “Cukup Baik”
Dalam jangka panjang, menerapkan satisficing dapat membantu individu membangun hubungan yang lebih sehat dengan proses pengambilan keputusan. Pikiran menjadi lebih fleksibel, tingkat kecemasan menurun, dan energi mental dapat dialihkan ke hal-hal yang lebih bermakna. Selain itu, seseorang juga belajar menerima ketidaksempurnaan sebagai bagian alami dari kehidupan.
Dengan mengadopsi pola pikir “cukup baik”, individu tidak hanya terhindar dari overthinking, tetapi juga mampu menjalani kehidupan dengan lebih seimbang. Keputusan tetap dapat diambil secara sadar dan bertanggung jawab, tanpa harus dibebani oleh tuntutan untuk selalu menjadi sempurna.