Ketahanan pangan merupakan salah satu pilar utama dalam menjaga stabilitas nasional dan kesejahteraan masyarakat. Ketersediaan pangan yang cukup, berkelanjutan, dan merata menjadi tantangan besar bagi negara dengan jumlah penduduk yang terus meningkat. Dalam konteks tersebut, sektor pertanian, khususnya komoditas jagung, memiliki peran strategis karena berfungsi sebagai bahan pangan, pakan ternak, serta bahan baku industri. Upaya peningkatan produksi jagung nasional membutuhkan sinergi lintas sektor, termasuk keterlibatan institusi non-pertanian. Kepolisian Republik Indonesia (Polri) menjadi salah satu institusi yang aktif berkontribusi dalam mendukung program ketahanan pangan nasional melalui berbagai kegiatan terintegrasi.

Implementasi Program Panen Raya Jagung Serentak

Sebagai bagian dari komitmen terhadap ketahanan pangan, Polri melaksanakan panen raya jagung secara serentak di 36 Kepolisian Daerah (Polda) di seluruh Indonesia. Kegiatan ini di laksanakan pada kuartal keempat tahun 2025 dan mencakup lahan pertanian yang di kelola secara terencana dan berkelanjutan. Total luas lahan jagung yang di proyeksikan untuk di panen mencapai lebih dari 47 ribu hektare dengan estimasi produksi sekitar 743 ribu ton jagung pipilan kering. Angka tersebut menunjukkan kontribusi signifikan terhadap peningkatan produksi jagung nasional dalam skala besar.

Pelaksanaan panen raya ini mencerminkan pendekatan sistematis Polri dalam mendukung sektor pertanian, tidak hanya melalui pengamanan, tetapi juga melalui pendampingan dan pembinaan langsung di lapangan. Program ini juga menjadi bagian dari strategi jangka panjang untuk meningkatkan kemandirian pangan dan mengurangi ketergantungan pada impor komoditas strategis.

Program Polri Ketahanan Pangan

Foto: As SDM Kapolri Irjen Anwar.

 

Pengelolaan Lahan dan Produktivitas Pertanian

Salah satu lokasi panen raya yang menjadi contoh implementasi program adalah lahan binaan di Desa Sukamahi, Kecamatan Cikarang Pusat, Kabupaten Bekasi, Jawa Barat. Pada wilayah ini, lahan seluas 25 hektare di kelola secara intensif dan menghasilkan sekitar 100 ton jagung pipilan kering dengan kadar air yang memenuhi standar pascapanen. Keberhasilan pengelolaan lahan tersebut menunjukkan bahwa dengan perencanaan yang baik, produktivitas lahan dapat di tingkatkan secara optimal.

Selain itu, pengembangan lahan di lakukan secara bertahap. Setelah panen pertama, di rencanakan perluasan lahan tanam dengan luasan tambahan yang setara, sehingga total area pengelolaan mencapai 50 hektare. Pendekatan ini mencerminkan model pertanian berkelanjutan yang tidak hanya berorientasi pada hasil jangka pendek, tetapi juga pada kesinambungan produksi.

Pemberdayaan Petani dan Kelompok Tani

Keberhasilan program ketahanan pangan tidak terlepas dari peran aktif petani sebagai pelaku utama sektor pertanian. Dalam pelaksanaan program panen raya jagung, Polri melibatkan ratusan kelompok tani yang tersebar di berbagai daerah. Secara keseluruhan, lebih dari 500 kelompok tani dengan ribuan petani turut berpartisipasi dalam pengelolaan dan panen jagung.

Keterlibatan kelompok tani ini menunjukkan bahwa program tidak bersifat top-down semata, melainkan mengedepankan prinsip pemberdayaan masyarakat. Petani mendapatkan pendampingan, akses lahan, serta dukungan koordinatif yang memungkinkan mereka meningkatkan kapasitas produksi. Dengan demikian, program ini tidak hanya berkontribusi terhadap peningkatan produksi jagung, tetapi juga terhadap peningkatan kesejahteraan petani dan penguatan ekonomi pedesaan.

Komitmen Polri terhadap Swasembada Pangan

Dalam skala nasional, Gugus Tugas Ketahanan Pangan Polri telah melaksanakan penanaman jagung pada ratusan ribu hektare lahan sepanjang tahun 2025. Total potensi lahan yang dapat di kembangkan bahkan mencapai lebih dari satu juta hektare yang tersebar di berbagai wilayah Indonesia. Potensi tersebut menjadi modal penting dalam mendukung agenda swasembada jagung nasional.

Polri menegaskan komitmennya untuk terus mendukung kebijakan pemerintah dalam mewujudkan swasembada pangan melalui pendekatan yang strategis, inovatif, dan berkelanjutan. Dukungan tersebut di wujudkan melalui koordinasi lintas sektor, pemanfaatan lahan produktif, serta penguatan peran masyarakat dalam sistem pangan nasional. Dengan keterlibatan aktif institusi negara dan masyarakat, ketahanan pangan diharapkan dapat terjaga secara berkelanjutan dalam menghadapi tantangan global maupun domestik.