Sengatan Listrik – Sebuah unggahan video yang menampilkan peristiwa seorang anak mengalami sengatan listrik saat memegang mikrofon baru-baru ini menarik perhatian luas masyarakat di media sosial. Video tersebut menyebar dengan cepat di berbagai platform digital dan memicu diskusi publik mengenai bahaya instalasi listrik, khususnya dalam kegiatan yang melibatkan anak-anak. Dalam rekaman tersebut, terlihat dua anak laki-laki tengah memegang mikrofon, sebelum salah satunya tiba-tiba mengalami sengatan listrik yang membuatnya tampak kesakitan dan tidak mampu melepaskan benda yang di genggam.
Kondisi tersebut berlangsung beberapa saat hingga akhirnya aliran listrik berhasil di matikan oleh petugas di lokasi. Berkat tindakan cepat tersebut, anak yang menjadi korban tidak mengalami cedera serius. Meski demikian, kejadian ini menimbulkan kekhawatiran sekaligus pertanyaan dari masyarakat, terutama terkait kebenaran anggapan bahwa seseorang yang tersetrum listrik tidak dapat melepaskan benda yang sedang di pegangnya.
Respons Ahli Terhadap Fenomena Korban Sulit Melepaskan Sumber Listrik
Menanggapi fenomena tersebut, dosen Pendidikan Teknik Elektro dari Universitas Negeri Yogyakarta, Toto Sukisno, memberikan penjelasan dari sudut pandang ilmiah. Ia membenarkan bahwa korban sengatan listrik memang cenderung mengalami kesulitan untuk melepaskan diri dari sumber arus listrik. Menurutnya, terdapat sejumlah mekanisme fisiologis yang menyebabkan kondisi tersebut terjadi.
Secara umum, arus listrik yang masuk ke dalam tubuh manusia dapat memengaruhi sistem saraf dan otot secara langsung. Dampaknya tidak hanya bersifat fisik, tetapi juga memengaruhi kemampuan korban dalam mengendalikan gerakan tubuhnya secara sadar.
Kontraksi Otot Akibat Arus Listrik
Salah satu faktor utama yang menyebabkan korban sulit melepaskan benda saat tersetrum adalah kontraksi otot yang sangat kuat. Ketika arus listrik mengalir melalui tubuh, otot-otot tangan dapat berkontraksi secara refleks dan tidak terkendali. Akibatnya, genggaman tangan justru menjadi semakin kuat terhadap benda yang menghantarkan listrik.
Kondisi ini sering kali terjadi tanpa di sadari oleh korban, sehingga upaya untuk membuka tangan menjadi sangat sulit di lakukan meskipun korban merasakan rasa sakit yang intens.

Ilustrasi Listrik
Tetanus Otot dan Kekakuan Gerak
Selain kontraksi, sengatan listrik juga dapat memicu kondisi yang di kenal sebagai tetanus otot. Dalam keadaan ini, otot menjadi kaku dan terkunci sehingga tidak dapat di gerakkan secara normal. Kekakuan tersebut membuat korban kehilangan kemampuan untuk melepaskan genggaman, bahkan ketika kesadaran masih terjaga.
Tetanus otot akibat listrik berbeda dengan kram biasa karena berlangsung selama arus listrik masih mengalir ke tubuh korban.
Gangguan Sistem Saraf dan Kehilangan Kontrol Tubuh
Sengatan listrik dapat mengganggu kerja sistem saraf pusat dan perifer. Gangguan ini menyebabkan korban kehilangan kendali atas respons motorik tubuhnya. Dalam situasi tersebut, tubuh tidak mampu merespons perintah otak secara normal, termasuk perintah untuk melepaskan benda yang sedang di pegang.
Kondisi ini menjelaskan mengapa korban sering kali tampak pasrah dan tidak mampu bergerak meskipun berada dalam kondisi berbahaya.
Rasa Nyeri Ekstrem Akibat Sengatan Listrik
Faktor lain yang turut berperan adalah rasa nyeri yang sangat hebat. Sengatan listrik dapat menimbulkan rasa sakit ekstrem yang bersifat mendadak dan intens. Nyeri tersebut dapat menyebabkan tubuh mengalami respons kejut, sehingga korban tidak mampu bereaksi secara rasional atau melakukan tindakan penyelamatan diri.
Rasa sakit yang tidak tertahankan ini sering kali memperburuk kondisi korban, terutama jika tidak segera mendapatkan pertolongan.
Prinsip Keselamatan dalam Menangani Korban Tersetrum Listrik
Dalam konteks pertolongan pertama, Toto Sukisno menegaskan bahwa langkah paling aman dalam menangani korban sengatan listrik adalah memutus aliran listrik terlebih dahulu. Tindakan ini menjadi prosedur utama dalam standar keselamatan kerja yang berkaitan dengan kelistrikan.
Ia juga mengingatkan bahwa menarik korban secara langsung dari sumber listrik sangat berisiko, baik bagi korban maupun penolong. Gesekan dengan benda keras atau tarikan paksa dapat menimbulkan cedera tambahan. Namun, dalam kondisi darurat ketika aliran listrik tidak dapat segera di putus, tindakan menarik korban dapat di lakukan sebagai pilihan terakhir.
Penyelamatan dalam situasi tersebut harus menggunakan benda yang bersifat isolator, seperti kayu kering, plastik, atau bahan lain yang tidak menghantarkan listrik. Hal ini bertujuan untuk mencegah arus listrik berpindah ke tubuh penolong dan menimbulkan korban tambahan.