Hong Wang Dan Yu Deng menjadi sorotan dunia akademik setelah keduanya berhasil menyelesaikan dua persoalan matematika yang telah membingungkan para ilmuwan selama lebih dari satu abad. Keberhasilan tersebut mengantarkan mereka meraih Fields Medal 2026, penghargaan tertinggi bagi matematikawan yang berusia di bawah 40 tahun. Prestasi itu juga mencatat sejarah karena untuk pertama kalinya akademisi kelahiran China berhasil menerima penghargaan bergengsi tersebut.

Fields Medal 2026 tidak hanya diberikan kepada Hong Wang dan Yu Deng. Komite penghargaan juga memilih John Pardon dari Amerika Serikat dan Jacob Tsimerman dari Kanada sebagai penerima medali tahun ini. Masing-masing memperoleh hadiah senilai 15.000 dolar Kanada sebagai bentuk penghargaan atas kontribusi mereka terhadap perkembangan ilmu matematika.

Prestasi yang Menarik Perhatian Dunia

Pengumuman penerima Fields Medal berlangsung di Amerika Serikat pada 23 Juli 2026. Waktu pengumuman itu bertepatan dengan pesatnya perkembangan teknologi kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI). Meski AI terus menunjukkan kemampuan luar biasa dalam berbagai bidang, dua persoalan matematika yang berhasil diselesaikan Wang dan Deng tetap membutuhkan pemikiran manusia yang mendalam.

Kabar kemenangan mereka langsung menyebar luas di China. Berbagai pembahasan mengenai Fields Medal memenuhi media sosial. Banyak pengguna internet memberikan apresiasi karena akhirnya ada matematikawan asal China yang berhasil meraih penghargaan tersebut.

Hong Wang Menemukan Pendekatan Baru untuk Persoalan Kakeya

Salah satu pencapaian terbesar datang dari Hong Wang bersama Josh Zahl. Keduanya berhasil memberikan solusi terhadap persoalan yang diperkenalkan matematikawan Jepang Soichi Kakeya pada 1917.

Persoalan tersebut tampak sederhana. Kakeya mempertanyakan luas area terkecil yang terbentuk ketika sebuah pensil diputar hingga menyelesaikan satu putaran penuh.

Selama puluhan tahun, masalah itu menjadi tantangan besar bagi komunitas matematika. Banyak peneliti mencoba menemukan jawabannya, tetapi belum memperoleh hasil yang memuaskan.

Hong Wang dan Josh Zahl memilih pendekatan berbeda. Mereka tidak membatasi pergerakan pensil pada bidang datar. Sebaliknya, mereka menempatkan objek tersebut di ruang tiga dimensi sehingga muncul sudut pandang baru dalam menyelesaikan persoalan.

Pendekatan itu menghasilkan jawaban yang kemudian dipublikasikan dalam jurnal ilmiah pada 2025. Hasil penelitian tersebut mendapat perhatian luas karena membuka peluang baru dalam pengembangan harmonic analysis dan cabang matematika lainnya.

Menurut Wang, daya tarik persoalan Kakeya muncul karena konsepnya berkaitan dengan berbagai bidang penelitian. Oleh sebab itu, banyak ilmuwan terus mempelajarinya selama bertahun-tahun.

Yu Deng Menjawab Tantangan dari David Hilbert

Sementara itu, Yu Deng memperoleh Fields Medal berkat keberhasilannya menjelaskan salah satu persoalan yang berasal dari daftar terkenal milik David Hilbert.

Hilbert memperkenalkan tantangan tersebut pada tahun 1900. Ia meminta para matematikawan mencari cara menjelaskan perilaku suatu sistem berdasarkan gerakan partikel-partikel penyusunnya.

Selama lebih dari satu abad, persoalan itu menjadi salah satu tantangan terbesar dalam matematika modern.

Yu Deng menyelesaikannya melalui penelitian mengenai perilaku gas. Analisis yang ia kembangkan mampu menghubungkan pergerakan partikel dengan perilaku sistem secara menyeluruh.

Ia mengaku sangat terhormat menerima Fields Medal. Baginya, penghargaan tersebut memiliki arti besar karena namanya kini berada dalam daftar matematikawan terbaik dunia.

Hong Wang Dan Yu Deng

Peraih Medali Fields Deng Yu (paling kiri) dan Wang Hong (paling kanan), keduanya matematikawan Tiongkok, John Pardon (kedua dari kiri), seorang matematikawan Amerika, dan Jacob Tsimerman, seorang matematikawan Kanada, berpose untuk foto grup pada upacara pembukaan Kongres Matematikawan Internasional 2026 di Philadelphia, Amerika Serikat, 23 Juli 2026.

Perjalanan Akademik Hong Wang

Hong Wang lahir di Guilin, Guangxi, pada 1991. Sejak kecil ia di kenal memiliki kemampuan belajar yang sangat cepat. Ia bahkan melompati dua tingkat pendidikan ketika masih duduk di sekolah dasar.

Pada usia 16 tahun, Wang di terima di Peking University. Awalnya ia mengambil jurusan ilmu kebumian. Namun, beberapa bulan kemudian ia memutuskan beralih ke jurusan matematika.

Setelah menyelesaikan pendidikan sarjana, Wang melanjutkan studi di Prancis. Ia belajar di Paris-Sud University dan École Polytechnique sebelum meraih gelar doktor dari Massachusetts Institute of Technology (MIT).

Saat ini Wang mengajar di New York University. Ia juga menjadi profesor tetap di Institut des Hautes Études Scientifiques (IHES), Prancis.

Prestasinya mendapat perhatian Presiden Prancis Emmanuel Macron. Kepala negara tersebut menyampaikan ucapan selamat secara langsung setelah pengumuman Fields Medal.

Selain menjadi penerima pertama dari China, Hong Wang juga tercatat sebagai perempuan ketiga sepanjang sejarah yang memperoleh Fields Medal.

Yu Deng Memiliki Minat yang Beragam

Yu Deng juga menunjukkan bakat matematika sejak usia muda. Ia aktif mengikuti berbagai kompetisi ketika masih bersekolah.

Pada 2007 ia masuk Peking University. Dua tahun kemudian ia meneruskan pendidikan ke MIT. Setelah itu ia menyelesaikan program doktor di Princeton University.

Sejak 2024, Deng mengajar sebagai profesor di University of Chicago.

Di luar dunia akademik, Deng memiliki banyak kegemaran. Ia menikmati manga, sastra, puisi, permainan Go, sepak bola, serta berbagai karya seni. Saat masih menjadi mahasiswa, ia bahkan mengambil enam mata kuliah matematika dalam satu semester. Ia juga membaca beberapa buku sekaligus dan menghabiskan lebih dari delapan jam setiap hari untuk belajar.

Deng pernah mengungkapkan bahwa dirinya kemungkinan akan memilih profesi sebagai penulis fiksi ilmiah apabila tidak menjadi matematikawan.

Momentum Baru bagi Matematika China

Keberhasilan Hong Wang dan Yu Deng mendapat sambutan positif dari Shing-Tung Yau. Peraih Fields Medal berdarah Tionghoa itu menyebut pencapaian tersebut sebagai momen penting bagi perkembangan matematika di China.

Ia menilai penghargaan itu menjadi bukti bahwa generasi baru peneliti China mampu memberikan kontribusi besar bagi ilmu pengetahuan dunia.

Ke depan, pemerintah China juga terus mendorong kerja sama pendidikan internasional. Strategi tersebut bertujuan memperluas kesempatan riset, menarik talenta global, dan meningkatkan kualitas pendidikan tinggi hingga 2035.

Prestasi Hong Wang dan Yu Deng sekaligus menunjukkan bahwa penelitian mendalam, ketekunan, dan kreativitas ilmiah masih menjadi kunci utama dalam memecahkan persoalan matematika yang telah bertahan selama lebih dari seratus tahun.