Galeri Benda Buhun Di Pangandaran – menjadi salah satu upaya untuk menjaga jejak kehidupan masyarakat Sunda agar tetap di kenal di tengah perubahan zaman. Inisiatif tersebut datang dari Dede Riki Saepudin, pemuda berusia 30 tahun asal Kecamatan Parigi, Kabupaten Pangandaran, yang mengumpulkan berbagai perlengkapan tradisional dan menempatkannya dalam sebuah galeri.
Dede membangun tempat tersebut karena memiliki ketertarikan terhadap seni rupa sekaligus benda peninggalan masa lalu. Baginya, berbagai perkakas lama bukan hanya barang yang sudah kehilangan fungsi. Sebaliknya, benda-benda itu menyimpan informasi mengenai kebiasaan, pekerjaan, serta cara masyarakat Sunda memenuhi kebutuhan hidup pada zamannya.
Untuk mewujudkan gagasannya, Dede menyediakan lahan yang cukup luas. Selain itu, ia mengalokasikan waktu dan biaya pribadi untuk mengembangkan kawasan galeri secara bertahap.
Menghadirkan Suasana Kehidupan Sunda Masa Lalu
Konsep galeri yang di kembangkan Dede tidak hanya mengandalkan lemari atau etalase untuk memajang koleksi. Ia berusaha menghadirkan suasana yang menggambarkan lingkungan kehidupan masyarakat pada masa lalu.
Sebuah rumah dengan karakter arsitektur tradisional berdiri di bagian tengah kawasan. Kehadiran bangunan tersebut menjadi bagian penting dari konsep galeri karena rumah pada masa lalu merupakan pusat berbagai aktivitas keluarga.
Menurut Dede, rumah tradisional dapat menjadi media untuk memahami perjalanan masyarakat Sunda. Di dalam kehidupan rumah tangga pada masa tersebut terdapat berbagai kisah mengenai kerja keras, kemampuan memanfaatkan sumber daya, hingga pengetahuan yang berkembang dan di wariskan dari satu generasi kepada generasi berikutnya.
Tidak jauh dari rumah itu terdapat leuit atau lumbung padi tradisional Sunda. Bangunan tersebut tetap mempertahankan bentuk dasarnya, meskipun fungsinya kini disesuaikan menjadi tempat yang dapat di gunakan seperti gazebo sekaligus bagian dari ruang koleksi.
Perkakas Tradisional Menjadi Koleksi Utama
Berbagai benda yang berkaitan dengan kehidupan sehari-hari menjadi daya tarik utama galeri. Dede mengumpulkan perlengkapan dapur, peralatan rumah tangga, hingga perkakas yang dahulu di gunakan masyarakat untuk mengolah hasil pertanian.
Beberapa koleksinya antara lain lisung, halu, dulang, dan tampian. Peralatan seperti itu sebelumnya memiliki fungsi penting, terutama ketika masyarakat masih mengolah bahan pangan menggunakan tenaga manusia dan peralatan sederhana.
Namun, perkembangan teknologi membuat banyak perkakas tradisional perlahan tergantikan oleh peralatan modern. Akibatnya, sebagian generasi muda mungkin hanya pernah melihat benda tersebut melalui foto atau bahkan belum mengetahui nama dan kegunaannya.
Kondisi itulah yang menjadi salah satu alasan Dede terus mengumpulkan benda buhun.
Menurutnya, sebuah perkakas lama dapat memberikan gambaran mengenai kemampuan masyarakat terdahulu dalam menciptakan alat sesuai kebutuhan. Bahkan, benda dengan nama serupa belum tentu mempunyai fungsi maupun karakter yang sama.

Aktivitas Dede merawat benda buhun
Mengenalkan Perbedaan Fungsi Benda Buhun
Dede ingin pengunjung nantinya tidak sekadar melihat koleksi. Ia berharap masyarakat, khususnya anak-anak dan generasi muda, dapat memahami fungsi setiap benda yang di pamerkan.
Sebagai contoh, dulang memiliki beberapa jenis dengan kegunaan berbeda. Ada dulang yang di gunakan dalam proses mengolah nasi, termasuk untuk ngakeul, sementara jenis lainnya dapat mempunyai fungsi berbeda dalam kegiatan pengolahan bahan pangan.
Begitu pula dengan lisung. Bentuk perkakas tersebut dapat memiliki karakteristik tertentu, termasuk perbedaan pada bagian lubangnya. Ada yang berbentuk lebih tirus, ada pula yang memiliki karakter lebih datar, serta sejumlah variasi lainnya.
Perbedaan tersebut menjadi informasi penting karena dapat menunjukkan keragaman pengetahuan tradisional yang pernah berkembang di masyarakat.
Karena itu, Dede berencana memberikan keterangan pada setiap koleksi setelah pembangunan galeri selesai. Informasi tersebut nantinya dapat mencakup nama benda, kegunaan, karakteristik, hingga daerah asal atau wilayah yang memiliki keterkaitan dengan perkakas tersebut.
Mengumpulkan Benda Antik dari Masyarakat Sekitar
Menariknya, koleksi galeri tidak diperoleh dari satu tempat. Dede mencari dan membeli berbagai benda tradisional dari masyarakat sekitar.
Cara tersebut sekaligus membantu menyelamatkan sejumlah perkakas lama yang mungkin sudah tersimpan tanpa di gunakan. Barang yang sebelumnya hanya di anggap sebagai benda tua kemudian dapat memperoleh fungsi baru sebagai sumber informasi mengenai kehidupan masyarakat terdahulu.
Leuit yang berada di kawasan galeri juga merupakan bangunan tradisional asli. Namun, Dede melakukan beberapa penyesuaian sehingga bangunan tersebut dapat di gunakan sesuai kebutuhan kawasan saat ini tanpa menghilangkan identitas visualnya.
Dengan konsep tersebut, galeri di harapkan tidak hanya menjadi tempat menyimpan benda antik. Kawasan itu juga di arahkan menjadi ruang pembelajaran yang memperlihatkan hubungan antara perkakas tradisional dan aktivitas masyarakat Sunda.
Menelusuri Proses Padi hingga Menjadi Nasi
Salah satu pengetahuan yang ingin di perkenalkan Dede berkaitan dengan proses pengolahan pangan pada masa lalu. Pengunjung nantinya dapat mempelajari tahapan bagaimana padi di proses hingga menjadi beras dan kemudian siap di masak.
Melalui koleksi alat pertanian serta peralatan rumah tangga, setiap tahapan tersebut dapat di jelaskan secara lebih konkret. Dengan demikian, generasi muda tidak hanya mengetahui hasil akhirnya berupa nasi, tetapi juga dapat memahami proses panjang yang dahulu dilakukan masyarakat menggunakan peralatan tradisional.
Upaya tersebut sekaligus menunjukkan bahwa benda buhun memiliki nilai edukasi yang masih relevan. Setiap perkakas dapat menjadi pintu masuk untuk mempelajari teknologi sederhana, kebiasaan masyarakat, budaya agraris, serta pengetahuan lokal Sunda.
Saat ini, pembangunan galeri masih berlangsung dan tempat tersebut juga belum mempunyai nama resmi. Dede menargetkan pengerjaannya dapat rampung pada November 2026.
Setelah selesai, ia berharap galeri benda buhun tersebut dapat memberikan manfaat bagi masyarakat Pangandaran maupun pengunjung dari daerah lain. Lebih dari sekadar memamerkan barang antik, tempat itu di harapkan menjadi ruang untuk mempertemukan generasi masa kini dengan jejak kehidupan masyarakat Sunda pada masa lampau.