Megawati Soekarnoputri – Peringatan 125 tahun kelahiran Presiden Pertama Republik Indonesia, Soekarno, berlangsung dalam berbagai bentuk kegiatan budaya dan kebangsaan. Salah satu agenda yang menarik perhatian publik adalah pameran seni rupa bertajuk “Mata Hati Soekarno” yang di gelar di Le Gareca Space, Bantul, Yogyakarta.

Pameran tersebut menghadirkan puluhan karya seni yang terinspirasi dari perjalanan hidup, pemikiran, dan kontribusi Bung Karno terhadap bangsa Indonesia. Kegiatan ini tidak hanya menjadi ruang apresiasi seni, tetapi juga menjadi sarana untuk mengingat kembali nilai-nilai kebangsaan yang terus relevan hingga saat ini.

Presiden Kelima Republik Indonesia sekaligus Ketua Umum PDI Perjuangan, Megawati Soekarnoputri, hadir secara langsung untuk membuka pameran tersebut. Kehadirannya menambah makna tersendiri karena acara berlangsung dalam momentum peringatan kelahiran sang proklamator yang juga merupakan ayahnya.

Puluhan Perupa Mengangkat Sosok Bung Karno dari Berbagai Perspektif

Sebanyak 47 perupa dari berbagai generasi berpartisipasi dalam pameran ini. Mereka menghadirkan karya dengan pendekatan yang beragam, mulai dari lukisan, ilustrasi, karya grafis, hingga bentuk ekspresi visual lainnya.

Setiap karya menawarkan sudut pandang yang berbeda dalam memaknai sosok Bung Karno. Para seniman mencoba menggali berbagai sisi kehidupan sang proklamator, mulai dari perjuangan kemerdekaan, gagasan kebangsaan, hingga pengaruhnya terhadap perkembangan budaya Indonesia.

Keberagaman karya tersebut menunjukkan bahwa figur Bung Karno masih menjadi sumber inspirasi yang kuat bagi dunia seni. Meski berasal dari generasi yang berbeda, para perupa tetap menemukan relevansi pemikiran Bung Karno dengan kondisi bangsa saat ini.

Melalui karya seni, para seniman berusaha membangun di alog antara masa lalu dan masa kini. Mereka mengajak masyarakat untuk melihat kembali warisan pemikiran Bung Karno dari perspektif yang lebih kreatif dan reflektif.

Seni Menjadi Media Merawat Semangat Kebangsaan

Seniman senior Yogyakarta, Butet Kartaredjasa, yang turut berperan dalam penyelenggaraan acara, menjelaskan bahwa pameran ini lahir dari kesadaran para seniman untuk memberikan penghormatan kepada Bung Karno.

Menurutnya, Bung Karno bukan hanya tokoh politik dan proklamator kemerdekaan. Ia juga merupakan sosok yang memiliki kedekatan dengan dunia seni dan budaya. Karena itu, para seniman merasa memiliki tanggung jawab moral untuk menjaga serta meneruskan semangat yang di wariskannya.

Semangat tersebut tercermin dalam upaya para perupa untuk menghadirkan karya yang tidak sekadar menampilkan potret fisik Bung Karno. Mereka juga berusaha mengangkat nilai-nilai perjuangan, nasionalisme, dan ideologi yang pernah di perjuangkan oleh tokoh besar tersebut.

Pameran ini menjadi bukti bahwa seni dapat berperan sebagai media edukasi sekaligus sarana untuk memperkuat identitas kebangsaan. Melalui bahasa visual, pesan-pesan sejarah dapat tersampaikan kepada generasi muda dengan cara yang lebih dekat dan mudah di pahami.

Mata Hati Soekarno

Presiden Kelima Republik Indonesia sekaligus Ketua Umum PDI Perjuangan (PDIP) Megawati Soekarnoputri membuka pameran seni rupa bertajuk ‘Mata Hati Soekarno’ di Le Gareca Space, Bantul, Yogyakarta, Sabtu (6/6/2026).

Bung Karno Tetap Menjadi Inspirasi Lintas Generasi

Kurator pameran, Suwarno Wisetrotomo, menjelaskan bahwa tema “Mata Hati Soekarno” menghadirkan tantangan tersendiri bagi para seniman. Sebagian besar peserta berasal dari generasi yang lahir jauh setelah masa kepemimpinan Bung Karno.

Meski demikian, para perupa berhasil menerjemahkan berbagai gagasan dan nilai yang di wariskan Bung Karno ke dalam bentuk karya seni yang relevan dengan perkembangan zaman. Mereka tidak hanya menghadirkan nostalgia sejarah, tetapi juga menampilkan interpretasi baru yang lebih kontekstual.

Menurut Suwarno, Bung Karno merupakan figur yang selalu menarik untuk di pelajari dan di maknai kembali. Pemikirannya mengenai nasionalisme, persatuan, dan kemandirian bangsa masih memiliki pengaruh besar dalam kehidupan masyarakat Indonesia.

Karena itulah, sosok Bung Karno tetap hadir dalam berbagai diskusi intelektual, kegiatan budaya, hingga karya seni. Inspirasi yang di tinggalkannya terus hidup dan berkembang seiring perubahan zaman.

Pameran Jadi Ruang Dialog tentang Warisan Pemikiran Bung Karno

Selain menampilkan karya seni, pameran “Mata Hati Soekarno” juga membuka ruang diskusi mengenai relevansi pemikiran Bung Karno bagi Indonesia masa kini. Pengunjung tidak hanya menikmati karya visual, tetapi juga diajak untuk memahami pesan yang terkandung di balik setiap karya.

Kegiatan ini memperlihatkan bagaimana seni dapat menjadi jembatan antara sejarah dan masyarakat modern. Melalui pendekatan kreatif, generasi muda memperoleh kesempatan untuk mengenal lebih dekat sosok Bung Karno serta kontribusinya terhadap perjalanan bangsa.

Pameran tersebut menjadi salah satu rangkaian peringatan 125 tahun kelahiran Bung Karno yang berlangsung di Yogyakarta. Kehadiran para tokoh nasional, budayawan, akademisi, dan seniman menunjukkan bahwa warisan pemikiran Bung Karno masih memiliki tempat penting dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.

Melalui pameran ini, para seniman berharap masyarakat tidak hanya mengenang sosok Bung Karno sebagai tokoh sejarah. Mereka juga mengajak publik untuk memahami nilai-nilai perjuangan, semangat persatuan, dan kecintaan terhadap tanah air yang terus relevan bagi masa depan Indonesia.