Gempa Jepang berkekuatan magnitudo 7,1 mengguncang Prefektur Kumamoto di Pulau Kyushu pada Selasa (28/7/2026). Guncangan kuat itu mengganggu aktivitas masyarakat dan memaksa otoritas menghentikan sementara berbagai layanan transportasi. Pengelola Bandara Kumamoto langsung menutup operasional bandara, sementara operator kereta menghentikan perjalanan Shinkansen serta sejumlah kereta lokal demi menjaga keselamatan penumpang.
Pemerintah Jepang juga mengerahkan tim tanggap darurat untuk menilai dampak gempa dan memantau kondisi di sejumlah wilayah terdampak. Selain mengganggu mobilitas, gempa tersebut menyebabkan kerusakan pada beberapa bangunan dan memicu proses evakuasi di lokasi yang terdampak paling parah.
Bandara Kumamoto Batalkan Seluruh Jadwal Penerbangan
Pengelola Bandara Kumamoto mengumumkan pembatalan seluruh penerbangan domestik dan internasional setelah gempa mengguncang wilayah tersebut sekitar pukul 16.27 waktu setempat. Keputusan itu bertujuan menjaga keamanan penumpang dan memastikan kondisi fasilitas bandara tetap layak di gunakan.
Bandara Kumamoto selama ini melayani penerbangan domestik menuju Tokyo, Narita, Osaka, Nagoya, dan Okinawa. Selain itu, bandara juga melayani rute internasional menuju Seoul, Shanghai, Taiwan, dan Hong Kong.
Maskapai turut membatalkan penerbangan Seoul-Kumamoto, Kumamoto-Seoul, Shanghai-Kumamoto, dan Kumamoto-Shanghai. Penumpang di minta memantau informasi terbaru karena jadwal penerbangan dapat berubah sesuai perkembangan situasi.
Pengelola bandara berencana membuka kembali operasional pada Rabu (29/7/2026). Namun, mereka masih memeriksa kondisi landasan, terminal, dan fasilitas lainnya sebelum mengambil keputusan akhir.
Layanan Kereta Cepat Ikut Berhenti
Gempa juga mengganggu transportasi darat di Pulau Kyushu. Operator kereta menghentikan sementara perjalanan Shinkansen serta sejumlah kereta lokal untuk menghindari risiko kecelakaan.
Petugas langsung memeriksa jalur rel, jembatan, dan sistem operasional sebelum mengizinkan kereta kembali melayani penumpang. Pemeriksaan tersebut menjadi prosedur standar setiap kali Jepang mengalami gempa berkekuatan besar.
Akibat penghentian layanan itu, banyak warga dan wisatawan harus menunda perjalanan sambil menunggu pengumuman resmi dari operator transportasi.

Petugas kepolisian berjaga di pintu masuk Aeon Mall Kumamoto, yang mengalami kerusakan akibat gempa bumi, di Kashima pada 28 Juli 2026. Puluhan orang dikhawatirkan terjebak di dalam pusat perbelanjaan di Jepang tersebut pada 28 Juli setelah gempa bumi besar merobohkan bangunan, memicu kebakaran, dan dilaporkan menewaskan satu orang serta melukai lebih dari 100 orang.
Gempa Merusak Bangunan dan Memicu Evakuasi
Tim penyelamat segera bergerak setelah menerima laporan kerusakan di beberapa lokasi. Salah satu insiden terbesar terjadi di Aeon Mall yang berada di Kota Kashima.
Sebagian lantai dua pusat perbelanjaan tersebut runtuh ketika aktivitas masih berlangsung. Tim penyelamat langsung melakukan pencarian dan evakuasi di lokasi kejadian.
Laporan awal menyebut sekitar 20 hingga 30 karyawan belum di temukan setelah bangunan mengalami kerusakan. Petugas juga mengevakuasi sejumlah korban yang mengalami luka ke rumah sakit untuk mendapatkan perawatan medis.
Wilayah yang terdampak gempa berada sekitar 900 kilometer di barat daya Tokyo. Meski cukup jauh dari ibu kota, guncangan tersebut tetap menimbulkan kerusakan di sejumlah daerah.
Peringatan Tsunami Berakhir Setelah Evaluasi
Badan Meteorologi Jepang sempat mengeluarkan peringatan tsunami untuk wilayah Laut Ariake, Laut Yatsushiro, dan beberapa prefektur di sekitar Kumamoto.
Setelah memantau kondisi laut selama sekitar dua jam, badan tersebut mencabut peringatan tsunami karena tidak lagi menemukan ancaman yang membahayakan wilayah pesisir.
Meski begitu, otoritas tetap meminta masyarakat meningkatkan kewaspadaan terhadap kemungkinan gempa susulan. Warga juga di minta mengikuti arahan petugas dan menghindari bangunan yang mengalami kerusakan.
Pemerintah Fokus pada Penanganan Darurat
Perdana Menteri Jepang, Sanae Takaichi, menyampaikan bahwa pemerintah terus mengumpulkan laporan dari berbagai daerah. Pemerintah menerima informasi mengenai kerusakan jalan, jembatan, bangunan, pemadaman listrik, dan kebakaran di sejumlah lokasi.
Tim tanggap darurat terus bekerja sama dengan aparat keamanan dan pemerintah daerah untuk mempercepat proses evakuasi serta penanganan korban. Mereka juga memeriksa kondisi infrastruktur agar aktivitas masyarakat dapat kembali berjalan dengan aman.
Hingga kini, petugas masih melakukan pendataan terhadap kerusakan yang di timbulkan gempa. Pemerintah Jepang mengimbau masyarakat tetap tenang, mengikuti informasi resmi, dan mengutamakan keselamatan selama proses penanganan bencana berlangsung.