Musim Udang Rebon Pangandaran kembali menghadirkan aktivitas khas di kawasan Pantai Timur Pangandaran. Hamparan udang rebon yang di jemur memenuhi Lapangan Ketapang Doyong pada Kamis (23/7/2026), menandakan musim tangkap telah memasuki periode produktif. Pemandangan tersebut selalu menjadi ciri khas yang muncul setiap tahun ketika hasil tangkapan nelayan meningkat. Selain menjadi daya tarik tersendiri, musim ini juga membawa harapan baru bagi para nelayan karena hasil laut yang melimpah mampu meningkatkan pendapatan mereka secara signifikan.

Di bawah sinar matahari yang terik, para nelayan menyebarkan udang rebon berukuran kecil di atas jaring berwarna hitam untuk menjalani proses pengeringan. Aroma khas udang yang sedang di jemur berpadu dengan angin pantai menciptakan suasana yang akrab bagi masyarakat pesisir. Aktivitas tersebut menjadi bagian dari rutinitas yang berlangsung setiap kali musim rebon tiba.

Musim Tangkap Berlangsung Selama Empat Bulan

Seorang nelayan bernama Nono (67) menjelaskan bahwa musim tangkap udang rebon biasanya berlangsung selama empat bulan, mulai Juli hingga Oktober. Selama periode tersebut, nelayan memanfaatkan kesempatan untuk memperoleh hasil laut sebanyak mungkin sebelum musim berakhir.

Nono mengatakan para nelayan menangkap udang rebon di bagang yang berada sekitar ratusan meter dari bibir Pantai Timur Pangandaran. Mereka menggunakan jaring sirib atau branjang berukuran besar untuk mengumpulkan udang dalam jumlah maksimal.

Aktivitas melaut di mulai sekitar pukul 18.00 WIB. Setelah berangkat menuju bagang, para nelayan bertahan di laut hingga sekitar pukul 04.00 WIB keesokan harinya. Selama semalam penuh, mereka mengangkat jaring secara berkala dengan jeda sekitar satu jam untuk mengumpulkan hasil tangkapan yang terus masuk.

Menurut Nono, kondisi arus laut menjadi faktor utama yang menentukan jumlah udang rebon yang berhasil di peroleh. Ketika arus laut stabil dan cuaca mendukung, hasil tangkapan dapat meningkat berkali-kali lipat di bandingkan kondisi biasa.

Ia mengungkapkan bahwa para nelayan mengangkat jaring beberapa kali setiap malam. Besarnya hasil tangkapan sangat bergantung pada perubahan arus laut yang terjadi selama proses penangkapan.

Musim Udang Rebon Pangandaran

Hamparan udang rebon dijemur di Lapangan Ketapang Doyong, Pantai Timur Pangandaran, Jawa Barat, Kamis (23/7/2026). Penjemuran memanfaatkan panas matahari sebelum udang rebon dipasarkan sebagai bahan baku terasi, ebi, dan berbagai produk olahan.

Hasil Tangkapan Bisa Mencapai Satu Ton

Dalam kondisi normal, nelayan umumnya memperoleh sekitar satu kuintal udang rebon setiap malam. Namun ketika arus laut sangat mendukung, jumlah tangkapan dapat melonjak hingga mencapai satu ton dalam semalam.

Setelah mendaratkan hasil tangkapan, nelayan segera membawa seluruh udang rebon ke Lapangan Ketapang Doyong untuk menjalani proses pengeringan. Tahapan ini menjadi langkah penting sebelum produk di pasarkan kepada para pengepul.

Para nelayan masih mengandalkan sinar matahari sebagai sumber utama dalam proses penjemuran. Karena itu, lama pengeringan sangat bergantung pada kondisi cuaca. Apabila matahari bersinar terang sepanjang hari, udang rebon dapat mengering dalam waktu sekitar setengah hari. Sebaliknya, cuaca mendung atau sinar matahari yang kurang maksimal membuat proses tersebut berlangsung hingga seharian.

Pantauan di lokasi menunjukkan deretan jaring penjemuran di penuhi hamparan udang rebon yang di susun memanjang dalam beberapa baris. Selama proses pengeringan berlangsung, nelayan rutin membolak-balik udang agar tingkat kekeringannya merata sehingga kualitas produk tetap terjaga.

Setelah mencapai tingkat kekeringan yang di inginkan, nelayan langsung mengemas udang rebon sebelum menjualnya kepada para pengepul yang datang dari berbagai daerah.

Permintaan Tinggi dan Harga Jual Menguntungkan

Nono menjelaskan bahwa sejumlah pengepul dari luar daerah secara rutin datang ke Pangandaran untuk membeli udang rebon kering. Bandar dari Tegal dan Banjar menjadi beberapa pembeli yang sering datang langsung ke lokasi penjemuran.

Harga jual udang rebon kering berkualitas terbaik saat ini berkisar antara Rp40.000 hingga Rp43.000 per kilogram. Sementara itu, rebon dengan kualitas di bawah standar memiliki harga belasan ribu rupiah per kilogram.

Melimpahnya hasil tangkapan selama musim rebon memberikan dampak positif terhadap pendapatan nelayan. Apabila hasil tangkapan mencapai satu ton dalam semalam, keuntungan bersih yang di peroleh dapat mencapai belasan hingga puluhan juta rupiah. Besarnya pendapatan tersebut tetap bergantung pada kualitas udang yang di hasilkan serta harga jual yang berlaku di pasaran.

Nono menegaskan bahwa kualitas produk menjadi salah satu penentu utama nilai jual. Semakin baik kualitas udang rebon yang di keringkan, semakin tinggi pula harga yang di terima nelayan.

Udang Rebon Menjadi Bahan Baku Berbagai Produk Olahan

Udang rebon kering tidak hanya memiliki nilai ekonomi sebagai hasil laut, tetapi juga menjadi bahan baku penting bagi berbagai industri makanan. Banyak pelaku usaha memanfaatkan komoditas ini untuk menghasilkan beragam produk olahan yang memiliki permintaan tinggi di berbagai wilayah Indonesia.

Menurut Nono, udang rebon paling banyak di gunakan sebagai bahan dasar pembuatan terasi, ebi, serta aneka bumbu masakan. Produk-produk tersebut kemudian di pasarkan ke berbagai daerah karena memiliki pasar yang luas dan terus berkembang.

Keberadaan musim udang rebon tidak hanya menggerakkan aktivitas ekonomi nelayan, tetapi juga mendukung rantai distribusi hasil laut hingga ke sektor industri pengolahan makanan. Dengan hasil tangkapan yang melimpah, Pangandaran kembali menunjukkan perannya sebagai salah satu daerah penghasil udang rebon yang penting di Indonesia.

Musim tangkap yang berlangsung setiap tahun pun menjadi momentum berharga bagi masyarakat pesisir untuk meningkatkan kesejahteraan. Selama kondisi cuaca dan arus laut tetap mendukung, nelayan optimistis hasil tangkapan akan terus melimpah hingga akhir musim pada Oktober mendatang.