Bocah 9 Tahun Di Singapura – mengumpulkan ratusan botol plastik dan kaleng bekas sebagai bagian dari kebiasaan menjaga lingkungan yang ia pelajari sejak dini. Gregory Imran Zahin tidak hanya membawa wadah minuman tersebut ke fasilitas daur ulang, tetapi juga berhasil mengajak keluarganya ikut menerapkan kebiasaan serupa.
Gregory mulai menaruh perhatian pada persoalan sampah setelah mendapatkan pengetahuan mengenai daur ulang di sekolah. Dari kegiatan belajar tersebut, bocah berusia sembilan tahun itu memahami bahwa wadah minuman yang sudah tidak digunakan masih dapat dikelola kembali daripada langsung berakhir sebagai sampah.
Ketertarikannya kemudian semakin besar ketika ia mengenali logo Beverage Container Return Scheme (BCRS) pada sebuah botol minuman. Program pengembalian wadah minuman tersebut memungkinkan masyarakat mengembalikan kemasan tertentu melalui mesin yang telah disediakan.
Sejak mengetahui cara kerja program itu, Gregory mulai mengumpulkan kemasan minuman yang dapat di kembalikan.
Kumpulkan Sekitar 200 Wadah Minuman dalam Dua Bulan
Muhammad Zahin Bin Zainal, ayah Gregory, menjelaskan bahwa putranya mendapatkan pengetahuan awal mengenai program daur ulang tersebut dari sekolah. Setelah memahami manfaatnya, Gregory mulai menerapkan apa yang telah ia pelajari dalam kehidupan sehari-hari.
Ia kemudian mengajak orang-orang di rumah untuk tidak langsung membuang botol plastik maupun kaleng minuman. Keluarga mulai memisahkan wadah yang masih dapat masuk dalam program pengembalian.
Kebiasaan sederhana itu menghasilkan jumlah yang cukup banyak. Dalam waktu kurang lebih dua bulan, Gregory berhasil mengumpulkan sekitar 200 wadah minuman. Koleksi tersebut terdiri dari sekitar 60 botol plastik dan 140 kaleng.
Sebagian besar berasal dari konsumsi keluarga sendiri, baik ketika berada di rumah maupun saat membeli makanan dan minuman di luar. Selain itu, keluarga Gregory sesekali mengambil botol atau kaleng yang mereka temukan tergeletak di sekitar perjalanan mereka.
Namun, mereka tidak sengaja berkeliling untuk mencari wadah bekas. Keluarga hanya mengambil kemasan yang kebetulan di temukan agar sampah tersebut dapat masuk ke jalur pengelolaan yang tepat.
Sempat Gagal Mengembalikan Botol dan Kaleng
Setelah jumlah botol dan kaleng semakin banyak, keluarga Gregory membawanya menuju mesin “Return Right” yang di gunakan dalam skema BCRS.
Proses tersebut ternyata tidak langsung berjalan mulus. Pada percobaan pertama, mesin yang mereka datangi sudah mencapai kapasitas penuh. Akibatnya, seluruh wadah yang di bawa belum bisa di masukkan.
Kondisi itu tidak menghentikan niat Gregory. Keluarganya membawa kembali koleksi tersebut dan menunggu kesempatan berikutnya.
Beberapa hari kemudian, mereka mendatangi mesin pengembalian sekali lagi. Kali ini, Gregory akhirnya dapat memasukkan botol plastik dan kaleng yang telah ia kumpulkan selama sekitar dua bulan.
Ayahnya juga mengabadikan kegiatan tersebut dalam sebuah video yang kemudian di unggah ke TikTok pada 8 September 2026. Dalam rekaman itu, Gregory membawa beberapa kantong besar yang di penuhi botol plastik kosong. Salah seorang adiknya turut membantu dengan membawa kardus berisi kaleng.

Gregory Imran Zahin, bocah sembilan tahun di Singapura yang mengumpulkan botol bekas dan kaleng bekas untuk didaur ulang.
Gregory Dapat Sekitar Rp277 Ribu dari Daur Ulang
Ratusan wadah yang di kembalikan ternyata memberikan manfaat tambahan bagi Gregory. Setelah seluruh botol dan kaleng di proses melalui skema pengembalian, ia memperoleh sekitar 20 dollar Singapura atau kurang lebih Rp277.000.
Uang tersebut menjadi tambahan tabungan bagi Gregory. Namun, manfaat yang ia peroleh tidak berhenti pada nilai ekonominya.
Kegiatan tersebut juga membuatnya semakin bersemangat menerapkan kebiasaan daur ulang. Sang ayah melihat Gregory menikmati proses mengumpulkan hingga mengembalikan wadah minuman tersebut.
Lebih jauh lagi, kebiasaan bocah itu mulai memberikan pengaruh kepada orang-orang terdekatnya.
Kebiasaan Gregory Mengubah Sikap Keluarga
Sebelum Gregory aktif mengumpulkan kemasan minuman, keluarganya belum menjadikan daur ulang sebagai kegiatan rutin. Kondisi itu perlahan berubah setelah melihat keseriusan Gregory.
Saudara kandung hingga sepupunya mulai ikut mengumpulkan wadah yang dapat di daur ulang. Orang tuanya pun mendukung kebiasaan tersebut karena memberikan manfaat positif sekaligus mengajarkan kepedulian terhadap lingkungan sejak usia dini.
Bagi keluarganya, tindakan Gregory menunjukkan bahwa perubahan kebiasaan tidak selalu harus bermula dari orang dewasa. Anak-anak juga dapat membawa pengaruh positif apabila mendapatkan pengetahuan dan kesempatan untuk menerapkannya secara langsung.
Gregory sendiri belum berniat menghentikan kegiatannya. Sebaliknya, ia ingin menjadikan daur ulang sebagai bagian dari rutinitas sehari-hari.
Ingin Bersihkan Pantai Sambil Memancing
Gregory juga memiliki rencana lain untuk memperluas kegiatan peduli lingkungannya. Ia ingin menggabungkan kebiasaan tersebut dengan salah satu hobinya, yakni memancing di kawasan pantai.
Saat pergi memancing berikutnya, Gregory berencana membawa kantong khusus untuk mengumpulkan sampah yang di temukan di sekitar lokasi. Dengan demikian, ia tetap dapat menikmati hobinya sekaligus membantu menjaga kebersihan pesisir.
Rencana tersebut menunjukkan bahwa kepedulian terhadap lingkungan dapat di mulai melalui aktivitas sederhana. Memisahkan botol plastik, mengumpulkan kaleng, menggunakan fasilitas daur ulang, hingga membawa pulang sampah yang di temukan di pantai merupakan langkah kecil yang dapat dilakukan dalam kehidupan sehari-hari.
Bagi Gregory, kegiatan yang bermula dari pelajaran sekolah kini berkembang menjadi kebiasaan bersama keluarga. Dari sekitar 200 botol dan kaleng yang berhasil di kumpulkannya, bocah sembilan tahun itu bukan hanya mendapatkan tambahan uang tabungan, tetapi juga membawa perubahan terhadap cara keluarganya memperlakukan sampah dan menjaga lingkungan.