Pola Makan Tradisional Jepang kembali menarik perhatian setelah hasil penelitian terbaru mengaitkannya dengan kesehatan mental yang lebih baik. Penelitian tersebut menemukan bahwa orang yang rutin mengonsumsi makanan khas Jepang atau washoku cenderung memiliki risiko gejala depresi yang lebih rendah dibandingkan mereka yang jarang menjalankan pola makan tersebut. Meski hasilnya cukup menjanjikan, para peneliti mengingatkan bahwa temuan ini hanya memperlihatkan hubungan antara pola makan dan kesehatan mental, bukan membuktikan hubungan sebab akibat.

Tim peneliti mempublikasikan hasil studi tersebut dalam jurnal Psychiatry and Clinical Neurosciences. Penelitian melibatkan sekitar 12.500 pekerja di Jepang yang menjalani evaluasi pola makan dan kondisi psikologis. Setelah menganalisis data, peneliti menemukan bahwa kelompok yang paling konsisten menjalankan washoku memiliki risiko gejala depresi sekitar 17 persen lebih rendah dibandingkan kelompok yang paling jarang mengonsumsi menu tradisional Jepang.

Kandungan Gizi Washoku Mendukung Fungsi Otak

Washoku mengutamakan makanan segar dengan proses pengolahan yang sederhana. Menu sehari-hari biasanya berisi nasi, ikan, sup miso, tahu, natto, rumput laut, jamur, aneka sayuran, dan teh hijau. Pola makan modern di Jepang juga mulai menambahkan buah-buahan, produk susu, serta memperbanyak sayuran segar sambil membatasi makanan yang mengandung garam tinggi.

Para peneliti menjelaskan bahwa setiap komponen dalam washoku menyumbang nutrisi yang bermanfaat bagi kesehatan otak. Sayuran hijau, rumput laut, serta produk kedelai mengandung folat yang membantu tubuh menghasilkan serotonin dan dopamin. Kedua zat tersebut berperan penting dalam menjaga suasana hati, mengendalikan emosi, dan mendukung fungsi sistem saraf.

Miso dan natto juga memberikan manfaat lain karena melalui proses fermentasi alami. Makanan fermentasi membantu menjaga keseimbangan mikrobiota usus. Sejumlah penelitian sebelumnya menunjukkan bahwa kondisi usus yang sehat berkaitan erat dengan fungsi otak melalui hubungan yang dikenal sebagai gut-brain axis. Karena itu, kesehatan saluran pencernaan ikut memengaruhi kondisi psikologis seseorang.

Pola Makan Tradisional Jepang

Pola makan tradisional Jepang disebut bisa membantu jaga kesehatan mental dengan nutrisi yang mendukung fungsi otak.

Ikan, Teh Hijau, dan Umami Menjadi Pelengkap

Washoku juga mengandalkan konsumsi ikan sebagai sumber protein utama. Salmon, makarel, dan sarden mengandung asam lemak omega-3 yang mendukung kerja sel-sel otak. Nutrisi tersebut membantu menjaga komunikasi antarsel saraf sekaligus mengurangi peradangan yang dapat mengganggu fungsi otak.

Selain ikan, masyarakat Jepang juga terbiasa menikmati teh hijau setiap hari. Minuman ini mengandung katekin dan L-theanine yang membantu tubuh tetap rileks tanpa mengurangi konsentrasi. Kandungan tersebut juga mendukung aktivitas senyawa kimia otak yang berhubungan dengan rasa tenang dan nyaman.

Peneliti turut menyoroti manfaat rasa umami yang menjadi ciri khas banyak hidangan Jepang. Rasa gurih alami itu berasal dari miso, jamur, rumput laut, kaldu, dan kecap. Peneliti menduga umami membantu tubuh memasuki kondisi yang lebih santai. Respons tersebut muncul karena tubuh menurunkan detak jantung dan meningkatkan aktivitas sistem saraf parasimpatis yang berhubungan dengan relaksasi.

Rendah Makanan Ultra-Proses Menjadi Nilai Tambah

Washoku tidak hanya kaya nutrisi, tetapi juga membatasi konsumsi makanan ultra-proses. Pola makan ini lebih mengutamakan bahan pangan alami daripada makanan siap saji, camilan kemasan, minuman tinggi gula, atau produk olahan lainnya.

Berbagai penelitian sebelumnya menemukan bahwa konsumsi makanan ultra-proses dalam jumlah tinggi sering berkaitan dengan meningkatnya risiko gangguan suasana hati, termasuk depresi dan kecemasan. Sebaliknya, pola makan yang berisi makanan alami memberikan asupan vitamin, mineral, serat, serta lemak sehat yang lebih seimbang sehingga tubuh dan otak dapat bekerja secara optimal.

Walaupun hasil penelitian terbaru memberikan gambaran yang positif, para peneliti belum menyimpulkan bahwa washoku mampu mencegah depresi. Mereka hanya menemukan hubungan antara kebiasaan menjalankan pola makan tradisional Jepang dan rendahnya risiko gejala depresi. Oleh sebab itu, mereka mendorong penelitian lanjutan agar para ilmuwan dapat memahami mekanisme biologis yang mendasari hubungan tersebut secara lebih mendalam.