Budaya – Di tengah pesatnya arus modernisasi, menjaga kedekatan masyarakat dengan budaya tradisional menjadi tantangan tersendiri. Namun, Kota Tua Jakarta kembali membuktikan bahwa pelestarian budaya dapat berlangsung dengan cara yang menyenangkan, inklusif, dan dekat dengan kehidupan sehari-hari.
Melalui kegiatan bertajuk Berkain, Indonesia Tourism Information Centre (TIC) bersama Yayasan Kota Tua Jakarta mengajak masyarakat untuk merayakan kekayaan budaya Nusantara melalui berbagai aktivitas edukatif dan rekreatif. Acara tahunan tersebut tidak hanya menjadi ajang berkumpul bagi para pencinta kain tradisional dan kebaya, tetapi juga menghadirkan pengalaman budaya yang dapat dinikmati seluruh lapisan masyarakat.
Berkain menjadi bukti bahwa tradisi tidak harus tampil kaku atau terbatas pada ruang formal. Sebaliknya, budaya dapat hadir sebagai bagian dari gaya hidup yang membangun rasa bangga terhadap identitas bangsa.
Merayakan Ulang Tahun Jakarta Melalui Budaya
Penyelenggaraan Berkain tahun ini juga menjadi bagian dari rangkaian peringatan Hari Ulang Tahun ke-499 DKI Jakarta. Melalui momentum tersebut, penyelenggara ingin menghadirkan perayaan yang tidak hanya bersifat seremonial, tetapi juga memberikan nilai edukasi kepada masyarakat.
Kepala Unit Pengelola Kawasan Kota Tua Jakarta, Denny Aputra, menjelaskan bahwa kegiatan ini bertujuan memperkenalkan budaya Indonesia sekaligus mempertemukan berbagai komunitas yang memiliki kepedulian terhadap pelestarian kain Nusantara.
Melalui semangat kebersamaan, peserta dari berbagai usia dapat berinteraksi, bertukar pengalaman, serta memperluas pemahaman tentang pentingnya menjaga warisan budaya.
Selain itu, penyelenggara membuka kegiatan ini secara gratis sehingga masyarakat dapat mengikuti seluruh rangkaian acara tanpa hambatan biaya. Langkah tersebut memperlihatkan komitmen untuk menjadikan budaya sebagai ruang publik yang dapat di akses siapa saja.
Ragam Aktivitas Budaya yang Edukatif dan Interaktif
Berkain tidak hanya mengajak peserta mengenakan kain tradisional. Acara ini juga menghadirkan berbagai kegiatan yang mendorong keterlibatan aktif masyarakat.
Pengunjung dapat menjelajahi museum di kawasan Kota Tua untuk mengenal sejarah Jakarta dari berbagai sudut pandang. Selanjutnya, peserta dapat mengikuti forum diskusi yang membahas nilai budaya dan relevansinya dalam kehidupan modern.
Tidak berhenti di situ, penyelenggara juga menghadirkan karnaval budaya yang menampilkan keindahan kain Nusantara melalui berbagai gaya busana. Suasana semakin meriah dengan adanya lokakarya kreatif yang memungkinkan peserta mempelajari keterampilan baru.
Anak-anak pun memperoleh ruang untuk menikmati permainan tradisional yang kini mulai jarang di temukan. Sementara itu, permainan angklung mengajak peserta merasakan pengalaman bermusik secara bersama-sama.
Rangkaian kegiatan tersebut menunjukkan bahwa pelestarian budaya dapat berlangsung melalui pendekatan yang menyenangkan tanpa menghilangkan esensi tradisi itu sendiri.

Para ibu berkebaya memainkan angklung dalam kegiatan berkumpul dan bermain (Berkain) di Kota Tua, Jakarta Barat, Minggu (14/6/2026).
Berkain Konsisten Menjaga Tradisi
Berkain bukan kegiatan yang baru pertama kali berlangsung. Tahun ini menjadi penyelenggaraan kelima sejak program tersebut diperkenalkan kepada masyarakat.
Konsistensi tersebut memperlihatkan keseriusan penyelenggara dalam menciptakan ruang budaya yang berkelanjutan. Kehadiran acara tahunan seperti Berkain juga membantu membangun kebiasaan positif di tengah masyarakat untuk lebih dekat dengan warisan budaya Indonesia.
Di sisi lain, kegiatan ini turut memperkuat eksistensi Kota Tua Jakarta sebagai destinasi wisata budaya yang aktif menghadirkan berbagai program kreatif.
Dengan demikian, Kota Tua tidak hanya berfungsi sebagai kawasan bersejarah, tetapi juga berkembang menjadi pusat interaksi budaya yang hidup dan relevan dengan perkembangan zaman.
Kota Tua Jakarta dan Antusiasme Pengunjung
Kawasan Kota Tua Jakarta memang memiliki daya tarik tersendiri. Pada hari kerja, jumlah pengunjung dapat mencapai sekitar 7.000 hingga 11.000 orang per hari. Sementara itu, angka kunjungan saat akhir pekan atau hari libur dapat melampaui 50.000 orang setiap harinya.
Melihat tingginya minat masyarakat tersebut, penyelenggara berharap Berkain dapat menjangkau lebih banyak peserta dari berbagai daerah, bahkan wisatawan mancanegara.
Tidak hanya menjadi penonton, masyarakat juga diharapkan terlibat aktif dalam setiap kegiatan. Kolaborasi antara komunitas, pelaku budaya, dan pengunjung menjadi kunci utama agar semangat pelestarian budaya dapat terus tumbuh.
Berkain sebagai Langkah Menuju Jakarta Kota Global
Berkain membawa pesan bahwa kota modern tidak harus melepaskan akar budayanya. Justru, identitas budaya dapat menjadi kekuatan utama dalam membangun citra kota di tingkat internasional.
Melalui pemanfaatan kain Nusantara sebagai simbol persatuan dan kebanggaan, Jakarta menunjukkan komitmennya untuk tumbuh sebagai kota global yang tetap menghargai warisan leluhur.
Budaya tidak hanya berfungsi sebagai peninggalan masa lalu. Budaya juga menjadi sumber inspirasi, sarana edukasi, dan ruang pertemuan bagi masyarakat yang beragam.
Pada akhirnya, Berkain bukan sekadar acara tahunan atau perayaan mengenakan busana tradisional. Kegiatan ini merupakan ajakan untuk mencintai budaya Indonesia melalui tindakan sederhana, yaitu mengenakan, mengenal, dan merayakan kekayaan Nusantara bersama-sama.
Dengan semangat tersebut, Jakarta tidak hanya bergerak menuju kota global yang modern, tetapi juga tampil sebagai kota yang mampu menjaga identitas budayanya di tengah perubahan zaman.