Air Terjun Sambabo – Kabupaten Mamasa, Sulawesi Barat, menyimpan potensi wisata alam yang menarik perhatian. Salah satunya adalah Air Terjun Sambabo yang berada di Desa Ulumambi, Kecamatan Bambang. Air terjun tersebut kini menjadi sorotan setelah hasil ekspedisi menyebut ketinggiannya mencapai 316 meter.
Dengan angka tersebut, Sambabo diklaim berpotensi menjadi air terjun tertinggi di Indonesia. Namun, pemerintah daerah masih membutuhkan kajian lebih lanjut untuk mendapatkan pengakuan secara ilmiah.
Air Terjun Sambabo berjarak kurang lebih 52 kilometer dari pusat Kota Mamasa. Keindahan alam dan karakter medan yang menantang membuat kawasan ini memiliki daya tarik tersendiri. Selain itu, hasil pengukuran terbaru semakin membuka peluang Sambabo untuk dikenal sebagai destinasi unggulan Sulawesi Barat.
Pengukuran Air Terjun Sambabo Capai 316 Meter
Perhatian terhadap Air Terjun Sambabo meningkat setelah tim Sarira Exped melakukan ekspedisi dan pengukuran langsung. Hasil kegiatan tersebut kemudian ramai diperbincangkan melalui media sosial.
Sarira Exped merupakan operator ekspedisi dan wisata alam yang berbasis di Tana Toraja, Sulawesi Selatan. Tim ini biasa menjalankan berbagai aktivitas petualangan. Kegiatannya meliputi canyoning, penelusuran gua, pendakian, hingga panjat tebing.
Ketua Tim Ekspedisi Sambabo, Arvand Paliling, menjelaskan bahwa tim mendapatkan angka sekitar 316 meter. Pengukuran dilakukan dari area jatuhnya air hingga bagian kolam di bawah air terjun.
Tim tidak hanya mengandalkan satu perangkat untuk mendapatkan angka tersebut. Sebaliknya, mereka menerapkan tiga pendekatan pengukuran agar memiliki data pembanding.
Pertama, tim menggunakan drone untuk membantu memperoleh informasi ketinggian. Selanjutnya, mereka memanfaatkan perangkat Global Positioning System atau GPS. Selain itu, anggota ekspedisi menghitung panjang lintasan canyon saat turun langsung menyusuri air terjun.
Menurut Arvand, ketiga metode tersebut menghasilkan angka yang relatif berdekatan. Hasil inilah yang kemudian menjadi dasar klaim bahwa Sambabo mempunyai ketinggian sekitar 316 meter.
Ekspedisi Dipersiapkan Selama Satu Tahun
Pengukuran Sambabo bukan kegiatan yang dilakukan secara mendadak. Arvand bersama timnya telah mempersiapkan ekspedisi tersebut selama kurang lebih satu tahun.
Ketertarikan untuk menjelajahi Sambabo berawal dari potensi besar yang terlihat di kawasan tersebut. Namun, informasi mengenai ukuran pasti air terjun masih sangat terbatas. Kondisi itu mendorong Sarira Exped untuk melakukan eksplorasi secara langsung.
Selain mengukur ketinggian, tim juga menjalankan aktivitas olahraga ekstrem dengan menuruni air terjun. Karena itu, persiapan harus dilakukan secara matang. Keselamatan anggota menjadi salah satu pertimbangan utama selama penyusunan rencana ekspedisi.
Dalam pelaksanaannya, Sarira Exped menerjunkan tujuh anggota. Mereka juga mendapatkan dukungan dari dua Komunitas Pecinta Alam atau KPA asal Mamasa.
Komunitas lokal membantu tim berkomunikasi dengan pemerintah desa serta perangkat adat. Selain itu, mereka turut membantu proses perizinan sebelum kegiatan berlangsung.
Sementara itu, kebutuhan peralatan dan biaya ekspedisi di tanggung secara mandiri. Tim tidak memperoleh pendanaan dari pihak lain untuk menjalankan kegiatan tersebut.
Ritual Adat Mengawali Perjalanan Tim
Ekspedisi berlangsung sekitar satu minggu. Sebelum perjalanan di mulai, tim mengikuti tata cara adat yang masih di jaga masyarakat setempat.
Sebagian warga di kawasan tersebut masih mempertahankan tradisi yang berkaitan dengan Aluk To Dolo, sistem kepercayaan tradisional masyarakat setempat. Oleh sebab itu, warga memberikan sejumlah arahan mengenai hal-hal yang boleh maupun tidak boleh dilakukan selama berada di kawasan Sambabo.
Tim ekspedisi menghormati ketentuan tersebut. Mereka juga mengikuti ritual adat sebelum memulai perjalanan. Dalam prosesi itu, masyarakat menyampaikan doa agar seluruh kegiatan berlangsung aman dan semua anggota dapat kembali dengan selamat.
Keterlibatan masyarakat lokal menunjukkan bahwa eksplorasi Sambabo bukan sekadar aktivitas petualangan. Di sisi lain, kegiatan tersebut juga bersinggungan dengan nilai budaya yang hidup di tengah masyarakat.

Tim Sarira Exped melakukan ekspedisi mengukur ketinggian Air terjun Sambabo di Mamasa.
Medan Licin Menjadi Tantangan Ekspedisi
Meskipun kegiatan dapat di selesaikan, tim menghadapi medan yang cukup berat. Kondisi tanah di bagian atas air terjun menjadi salah satu tantangan utama.
Permukaan tanah di sebut sangat licin karena kawasan tersebut masih jarang di lalui manusia. Bahkan, beberapa bagian terasa seperti berlendir saat di injak.
Karakter batuan di sekitar tebing juga menambah tingkat kesulitan. Meski tergolong keras, susunan batu tidak seluruhnya saling mengikat dengan kuat. Akibatnya, beberapa batu berpotensi bergeser atau terlepas ketika menerima getaran.
Situasi tersebut membuat tim harus sangat berhati-hati menentukan jalur. Mereka bahkan beberapa kali mengubah lintasan saat turun karena jalur awal di nilai berisiko.
Faktor keselamatan akhirnya menjadi prioritas sepanjang perjalanan. Kondisi medan tersebut juga menyebabkan proses pengukuran membutuhkan waktu lebih panjang.
Sambabo Berpotensi Jadi Destinasi Unggulan Mamasa
Setelah menyelesaikan ekspedisi, tim menyampaikan hasil temuannya kepada pemerintah setempat. Arvand berharap semakin banyak pihak ikut memperkenalkan Sambabo kepada masyarakat luas.
Menurut perhitungan tim, ketinggian 316 meter membuat Sambabo berada di atas sejumlah air terjun yang selama ini di kenal sangat tinggi di Indonesia.
Arvand membandingkannya dengan Air Terjun Ponot dan Sigura-gura di Sumatera Utara. Kedua air terjun tersebut selama ini kerap di sebut memiliki ketinggian sekitar 250 meter. Meski demikian, penetapan Sambabo sebagai yang tertinggi masih membutuhkan proses verifikasi dan pengakuan lebih lanjut.
Karena itu, publikasi menjadi salah satu langkah penting. Promosi yang lebih luas di harapkan mampu menarik perhatian wisatawan sekaligus mendorong penelitian lebih mendalam mengenai Sambabo.
Pemkab Mamasa Siapkan Kajian Ilmiah
Pemerintah Kabupaten Mamasa mulai merespons hasil ekspedisi tersebut. Kepala Dinas Pariwisata Mamasa, Arvin Ital Putra, mengatakan pihaknya berencana membangun komunikasi dengan Kementerian Pariwisata.
Koordinasi di perlukan karena pengembangan Sambabo berkaitan dengan penataan destinasi wisata. Pemerintah daerah juga ingin menjadikan momentum tersebut sebagai langkah awal untuk memperkenalkan potensi Sambabo secara lebih luas.
Selain promosi, pemerintah perlu menyiapkan perencanaan kawasan. Penataan menjadi penting apabila jumlah wisatawan meningkat setelah Sambabo semakin di kenal.
Di sisi lain, pemerintah daerah tidak ingin hanya bergantung pada hasil pengukuran tim ekspedisi. Karena itu, kajian lanjutan akan dilakukan bersama lembaga yang memiliki kompetensi terkait.
Kajian tersebut di harapkan dapat memverifikasi data ketinggian secara ilmiah. Dengan demikian, klaim Air Terjun Sambabo sebagai air terjun tertinggi di Indonesia dapat memperoleh dasar yang lebih kuat.
Apabila hasil pengukuran 316 meter nantinya mendapatkan pengakuan resmi, Sambabo berpeluang menjadi ikon baru pariwisata Mamasa dan Sulawesi Barat. Namun, pengembangan destinasi juga perlu memperhatikan keselamatan pengunjung, kelestarian lingkungan, serta adat masyarakat setempat.
Perpaduan antara bentang alam, tantangan petualangan, dan kekayaan budaya membuat Sambabo memiliki nilai wisata yang besar. Kini, proses kajian ilmiah dan langkah pengembangan pemerintah akan menentukan perjalanan Sambabo menuju pengakuan yang lebih luas.